Bioskop Rajawali Purwokerto, Dulu dan Sekarang

Kasamago.com – – Bioskop Rajawali Four Theater Cinema ,Entah kapan Bioskop yang kini menjadi The One and The Only Bioskop ter eksis di bumi Purwokerto ini berdiri, yang jelas Saya pertama menonton film layar lebar di Bioskop Rajawali adalah saat Film Warkop DKI rilis diawal 90-an (yang ada diding boneng nya itu) bersama Ibunda tersayang.

Waktu bergulir ke era persis sebelum Orde Baru Tumbang, tanpa Notifikasi apapun Paman Saya mengajak menonton Bioskop bersama putranya yang masih balita. Bertiga Saya, Paman dan Putranya bertolak ke Rajawali, Berkendara bersama Angkot warna Orange yang menjadi trademark Kota Satria Purwokerto. Tanpa ingatan jelas, pokoknya tiba-tiba saja Saya sudah didalam gedung Bioskop duduk santai di kursi empuk khas teatre.

Bagaimana Paman beli tiket, dan film apa yang dipilih Saya blas gak mengingatnya sama sekali. Film yang ditunggu pun tayang, ternyata film Shaolin, yang jelas bukan film shaolinnya BoBoho dan Ng Man Tat karena gaya nya serius banget. Berkisah tentang perjuangan murid-murid shaolin melawan terjangan Pemimpin Tirani China yang ingin merebut Harta Karun China.

Rajawali Era Dulu

Kembali bernostalgia di era 90-an dan awal Heisei (Millenium/2000an awal), bisa dibilang pasca Nobar bersama Paman saya, teknis Saya sudah tidak pernah menyambangi gedung Bioskop bahkan sampe lupa apa itu Bioskop, gimana sensasi layar lebar nya, cara beli tiket nya dan sebagainya. Dijalanan sepulang sekolah Saya sering mendapat aktifitas marketing Bioskop Rajawali memakai kendaraan Pick Up Colt Modifan, Papan Bergambar Film yang sedang tayang, plus Megaphone (Toa) diatas atap mobil. Rajin bergerilya keliling kota sambil menyebar Brosur dan berpromosi melalui Toa yang diembannya.

Seiring tutupnya Bioskop Dynasty 21 (yang sekarang beralih menjadi bagian dari Hotel Horison Purwokerto), Masa keindahan dan Keagungan Bioskop perlahan redup, anjlok, runtuh, roboh, ambles, Terompet Senjakala bertiap dari Timur ke Barat. Turbulensi dan Disrupsi yang menimpa Bioskop semakin para ketika diawal milenial, Publik Tanah air tengah gandrung dengan yang namanya VCD/DVD Player. Makanan yang satu ini semakin berkibar menggerus Rajawali ketika harganya semakin murah berkat invasi produk elektronik dari negeri Tiongkok. Disisi lain, era pembajakan Film menemukan momentum nya, berbagai film bajakan dengan mudah didapat dan ditonton dirumah. Bioskop rugi bandar…

Keterparahan ini terus berlanjut hingga satu dekade, apalagi film-film yang ditayangkan di Rajawali selalu telat, parah malah plus Film yang baru di tayangkan  Rajawali, telah lebih dahului versi Bajakannya. Saking super telatnya, film baru yang ditayangkan di Bioskop Ibukota baru ditayangkan di Rajawali berminggu-minggu kemudian. Masyarakat Males, Bioskop Lemes, Nonton film yang udah basi jelas bukan keinginan Penikmat Bioskop yang rela mengorbankan secercah rupiah nya demi lembaran Tiket.

Bioskop Rajawali
Pic by wedangankopijahe.blogspot.com

Rajawali Sekarang

Mendekati satu dekade kemudian, Saya kembali menikmati bangku Bioskop adalah saat menonton film Harry Potter and the Half-Blood Prince di tahun 2009, and guest what.. saya masih canggung banget pas masuk ke gedungnya. Puluhan tahun terlalui tanpa Bioskop, bak anak SD baru masuk SMP.

Perubahan mulai nampak di tubuh Rajawali, Konon Manajemen Rajawali telah support oleh Jaringan Cineplex / Cinema 21 sehingga keter UPDATE an film nya sama dengan Bioskop di Ibukota atau sesuai jadwal dari Distributor film nya langsung. Perlahan film-film Hollywood dan lokal dapat ditayangkan secara on time oleh Rajawali.

Turning Point, atau titik perubahan dashyat Bioskop Rajawali menurut Saya adalah ketika menayangkan film The Dark Knight Rises tahun 2012 lalu. Muantaaaab, Filmnya bener2 tayang bersamaaan seluruh Jariangan bioskop Indonesia. Masyarakat pun membludak mengunjungi Rajawali, antrean pembelian tiket mengular berjam jam. Inilah untuk pertama kalinya, Saya merasakan mengantri tiket penuh sesak di Rajawali. Momen yang menghibur banget bagi saya.

Saat itu, Model Ticketing Rajawali masih menggunakan karcis konvensional. Nomor kursi dipilih menggunakan Label yang ditulis manual. Sangat tidak relevan dengan jaman dan jauh dengan Induknya di Ibukota sana. Memasuki Tahun 2013, Rajawali berbenah secara Fisik dan Ticketing. Toilet di renovasi sekelas Hotel berbintang dan jumlah nya ditambah, dan yang paling menarik, Ticketing sudah diganti Computerized seperti jaringan Bioskop 21 di Ibukota. Pola marketing pun sudah mengikuti era Digital, BBM dan Media Sosial, menjadi senjata ampuh promosi Rajawali. Hanya promosi via surat kabar masih tetap digunakan Rajawali hingga kini.

Memasuki akhir 2015, Renovasi total setiap Studio di Rajawali pun berlangsung. Kursi lama diganti dengan kursi baru yang memiliki kompartemen botol minuman, Dekorasi, AC, dan Audio Bioskop yang diperbarui, benar-benar memanjakan pengunjungnya. Pantaslah bila sekarang setiap hari Rajawali selalu dipenuhi pengunjung, apalagi kalau weeken membludaknya minta ampun karena konon pengunjungnya juga datang dari kota-kota tetangga. Pernah pas nonton Batman vs Superman kemarin, Saya harus bolak balik tiga hari guna mengantri tiketnya. Luar biasa.. Salut untuk Rajawali..

Comments

comments

5 Comments
    • kasamago
    • kasamago

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *