Gejolak Papua dan Diskriminasi Islam

Papua
Ricuh Mahasiswa Papua – Jatimpos

Kasamago.com – Bagi bangsa Indonesia, Bulan agustus adalah bulan sakral ,bulan kemerdekaan yang rutin di meriahkan oleh berbagai event lomba Agustusan sebagai wujud rasa syukur dan suka cita bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya. 

Sayang, di usia yang begitu matang, 74 Tahun. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bukan nya di hadiahi prestasi emas, justru mendapat tamparan maut berupa serangkaian peristiwa besar. Di mulai dari Blackout PLN, Kriminalisasi Ulama Populer Ustadz Abdul Somad, dan terkini Kerusuhan Papua. 

Belum tuntas rasa curiga publik akan BlackOut yang seolah sangat ditutupi Penguasa, Penyidikan yang tak jelas dan tidak ada penjelasan tuntas dari pemerintah, yang ada hanyalah Kompensasi. Terkait Blackout PLN dapat di Baca Disini >> BlackOut PLN

Lalu, UAS yang tak henti henti nya dijadikan target “The Invisible Hand“, Ulama Karismatik, cerdas ini hadir di waktu yang tepat ketika Republik dikuasai Rezim Firaun 4.0. Dakwahnya menghibur, mencerahkan, mencerdaskan, menyejukan dan menyatukan, Sangat NKRI dari pada yang lantang teriak NKRI. Karena nya, kehadiran Beliau menjadi ancaman bagi “The Invisible Hand” melalui tangan penguasa.

Berikutnya Papua, Senin 19 Agustus 2019 lalu terjadi kerusuhan luas di Papua, Khususnya Manokwari terkait peristiwa Rasisme yang menerpa Mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya. Bagi penikmat Geopolitik, Intelejen dan Konspirasi, Rangkaian peristiwa tersebut sangat kental berbau Konspirasi !!

Seperti yang publik ketahui, Papua Barat Indonesia adalah wilayah Maha luas yang kaya akan SDA. Most Wanted Island pokok nya. Secara Dejure n Defacto, Irian Jaya atau Papua adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun secara politis, Papua Barat adalah wilayah Dispute yang masih memendam Bara. Di duga kuat, Negara Asing, Khususnya Amerika, Israel, Australia, Inggris dan Belanda secara kasat mata turut bermain di belakang layar.

Buktinya, OPM tetap saja eksis, kalau mau dapat di berantas TNI hingga ke akar nya. Tetapi kenapa tidak di lakukan, Apa keistimewaan Bintang Kejora ini? Disisi lain, menghadapi Kerusuhan atau demonstrasi damai oleh faksi umat Muslim, Aparat justru mengerahkan kekuatan besar besaran, All out Power. Padahal yang jelas jelas makar dan menimbulkan bencana kemanusiaan justru pihak OPM. 

Last, Kita tunggu, apakah Penguasa mampu mengendalikan Kerusuhan Papua seperti kasus Tolikara 2015 lalu atau sebaliknya. Kita harapan, Kerusuhan ini segara berakhir demi keutuhan Republik Indonesia.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *