Ghost in The Shell

GhostinTheShell

Penggemar Anime dan manga tentu sudah wajib mengenal salah satu anime mahakarya legendaris yang diangkat dari manga karya Shirow Masamune berjudul Ghost in The Shell (1995).

Selain film Akira ,Patlabor dan Evangelion yang begitu menghentak publik dunia dimasanya, ternyata Ghost in The Shell tak kalah hebohnya. Jika ada yang masih menganggap anime tontonan anak-anak atau berbau hiburan bocah, cobalah menonton deretan film yang saya sebutkan tadi.

Anda akan dibuat meleleh dan beringsut dari tempat duduk karena ternyata ada film kartun yang menampilkan cerita dengan begitu kompleks, muram, dramatis, anggun dan kelam.

Kepopuleran anime movie Ghost in the Shell lantas melambungkan nama sang sutradara Mamoru Oshii ke kancah internasional dan menganggapnya sebagai Oliver Stone nya dunia anime Jepang, Studio Production I.G serta sang penata musik Kenji Kawai.

Intro

Dari dulu, ingin rasanya mengulas Ghost in the Shell (GITS) sejak saya mengenalnya melalui majalah Animonster di tahun 2004 silam. Sayang saat itu saya belum punya blog sebagai media exposure dan review, barulah ketika Hollywood merilis versi live action Ghost in the Shell dengan bintang Black Widow, Scarlet Johansen, mood mengulas GITS kembali tumbuh.

Sejak movie 1995 sukses besar, di awal 2000an, GITS dibuatkan serial tv nya, Ghost in the Shell Stand Alone Complex dan Spin Off tentang Batou berjudul Innocence di tahun 2004.

Karena kembali sukses, di tahun 2008, dibuat GITS versi Reboot 1995 nya. Cerita sama, hanya visualisasinya yang reboot ulang. Ditahun berikutnya, dirilis anime movie GITS berjudul Arise dan New Movie. Selain film, GITS juga diangkat ke dunia video games.

production IG

Ghost in The Shell

GITS bersetting di tahun 2030an, dimana teknologi robotik dan turunannya sudah begitu masif berkembang. Banyak Manusia mengganti organ vitalnya dengan cybernetic agar lebih kuat dan memiliki usia hidup yang lebih lama, Hingga sulit dibedakan mana manusia asli dan mana robot.

Tema utama GITS begitu menyisir batas kekuasaan Tuhan, dimana teknologi robot dan cyber telah melampaui batasnya dan perlahan mengikis eksistensi manusia yang asli. Otak cyber pun telah diciptakan dan mampu membuat Ghost (Ruh/Jiwa) sendiri selayaknya manusia.

Ghost in The Shell secara harfiah berarti Hantu didalam cangkang, Jiwa didalam tubuh buatan/robot. Merujuk pada karakter utama GITS, Motoko Kusanagi yang sukses menyatukan otaknya dengan tubuh cyber.

Section 9

Ciri khas utama dari kisah Ghost in The Shell adalah Section 9, Divisi Khusus yang dibentuk Guna menghadapi tindak kejahatan cyber. Diketuai oleh Aramaki dan Mayor Motoko Kusanagi sebagai komandan.

Section 9 beranggotakan Batou (sebagian besar organnya telah diganti cybernetic), Ishikawa (ahli IT), Togusa (satu satunya anggota section 9 yang masih sangat manusia karena hanya jantungnya yang telah diperkuat dengan part cybernetic), dan robot laba-laba, Tachikoma.

Scarlett Johansson

The Movie

Meski versi Live Action Hollywood dibangun berdasarkan anime movie originalnya, tetapi tetap saja ada perbedaan menarik disana. Keduanya menampilkan atmosfir berbeda meski inti kisah dan karakternya sama.

Di versi Originalnya, Mayor Kusanagi dan Section 9 disibukan dengan kemunculan hacker bernama Puppet Master. Penyelidikan lantas menemukan fakta mengejutkan bahwa Puppet Master ternyata robot intelejen milik Megatech (perusahaan pembuat robot dan cybernetic) dan Kementerian Luar Negeri bersandi Project 2501.

Di Versi Live Action, kisahnya tetap sama. Hanya puppet master adalah seorang pria dan merupakan produk eksperiment yang gagal.

Kusanagi lalu menyadari bahwa Puppetmaster adalah objek penelitian yang gagal sebelum dirinya diciptakan. Perlahan terungkap jati diri kusanagi dan puppet master, Keduanya adalah teman semasa kecil.

Akhirnya, Pertempuran antara perusahaan Megatech yang didukung pemerintah melawan Mayor Kusanagi dan Section 9 pun tak terelakan.

The Last

Menurut saya, versi adaptasi hollywood lebih mudah dicerna oleh penonton awan ketimbang animenya. Jangan harapkan ada adegan humor dan aksi duel dashyat ala Terminator. Aksi Detektif berbalut thriller misteri adalah hidangan utama GITS meski Major Kusanagi sejatinya telah dibekali kemampuan fighting ala Lara Croft dan wonder women.

Last, walau versi hollywood kurang mendapat sambutan meriah, namun peran Scarlet Johansson sebagai Mayor Motoko saya acungi bintang, Feelnya dapat. Keren. Karakter Kusanagi yang pendiam, keras kepala, namun tangguh dan selalu memperhatikan anak buahnya meski tak ditunjukan secara langsung.

*All copyrights of Images belong to their respective owners.

Comments

comments

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *