Habib Bahar bin Smith dan Tragedi 65

Habib Bahar bin Smith
Habib Bahar – suara.com

Kasamago.com — Setelah Habib Rizieq Shihab mengamankan diri ke Arab Saudi karena serangan Bertubi tubi dari Penguasa ,Indonesia khusus umat Islam yang masih berakal sehat kehilangan sosok pemimpin besar.

Tak lama kemudian menjelang Palagan Pilpres 2019, Sosok Habib muda dengan penampilan eksentrik tampil ke permukaan. Masih ingat mungkin sebagian masyarakat ,kehebatannya bicara dan kecerdasan nya sanggup membungkam mulut Ali Mochtar Ngabalin dalam suatu telewicara di TV One.

Singa Muda yang menjadi Singa

Kepiawaian nya berceramah yang kritis terhadap penguasa membuat Istana kian kegerahan ,Apalagi Habib Bahar Bin Smith juga memilik jamaah cukup besar dan dakwah nya menuai dukungan positif dari banyak kalangan Islam berakal sehat.

Operasi Intelejen kemudian targetkan pada Habib Bahar, pembunuhan karakter dan jebakan kriminal ala Habib Rizieq dilakukan. Habib Bahar masuk jebakan dengan beredarnya video penganiayaan terhadap anak kecil. Viola ,inilah sinyal hijau Penguasa memenjarakan Habib Bahar.

Kurungan penjara bukan nya membuat Habib Bahar melembek ,Singa muda ini justru semakin mengasah taring nya. Kabar nya 6 orang narapidana menjadi mualaf, dan 80 lain nya Hafal Hadits . AllahuAkbar
Berita ini lantas semakin mem perterang kemuliaan Habib Bahar, pesona nya justru ter upgrade, vibrasi resonansi nya sampai ke penghuni Istana.

Hampir setahun ,Habib Bahar keluar dari Lapas Pondok Rajeg. Hebat nya ratusan jamaah nya menyambut nya bak Pahlawan yang telah lama di nanti. Istana gusar, media TV tak berani memberitakan penyambutan meriah ini.

Sesampai di rumah nya, berbeda dengan Singa yang lepas dari kebun binatang, Habib Bahar Bagaikan Singa yang lepas dari jebakan pemburu. Auman nya tetap keras ,beliau menolak menjadi helo kitty seperti Sang Macan. Istana gak tenang, dalih pelanggaran PPSB menjadi lokomotif penangkapan kembali Habib Bahar di pagi buta. Khas Rezim ini.

Bukan nya kembali ke Pondok Rajeg, Habib Bahar justru di amankan ke Lapas Gunung Sindur, lapas khas Teroris lalu segera pindah ke Alcatraz, Nusakambangan, Publik pun geram. Kriminalisasi  terus membara, Tokoh besar yang melawan, Bungkam. Umat Islam membuat kesalahan, Blow Up. Itu formula nya. Memori Tragedi 65 pun menyeruak kembali ke permukaan. 

Sejarah yang berulang

Apa yang terjadi di rezim saat ini hampir mirip atau persis dengan dinamika politik nasional menjelang Tragedi 65. Dimana Ulama yang kritis dan tak mau tunduk pada Penguasa di penjara kan. Kalangan Islam sebagai mayoritas di pecah , ada yang menjadi penjilat ,cari aman hingga tetap sabar menanti kesempatan.

Bahaya laten PKI yang dahulu di anggap halu, sekarang kian menjadi kenyataan. Siapapun yang terang benderang menentang penyusupan besar besar Orang China dan mengusik kebangkitan neo PKI, akan menjadi target pembungkaman Penguasa.

Jadi teringat Quote Pandji Pragiwaksono dalam Stand up nya mengenang Alm Munir. “Selama dalang pembunuhan Munir tak di hukum, selama itu pula kita dalam Bahaya setiap menyuarakan kebenaran”.

Kini,Mei 2020 setahun setelah tragedi demonstrasi menolak pengumuman dini hari KPU atas kemenangan Rezim Boneka ,Rakyat dan Umat Islam yang berakal sehat tetap sebar ,waspada ,menanti moment terbaik untuk menumbangkan Penguasa yang zhalim. Semoga Allah SWT ,Sang Maha Tahu, Sang sebaik baiknya pembuat Skenario ,melindungi negeri dan bangsa ini dari kehancuran. Aamiin

baca juga :

Prabowo

KPU

Tan Malaka

Jokowi

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *