Hubungan Strategis, Aparat, Demonstran dan Wartawan

Unjuk Rasa

Unjuk Rasa. Pic by Liputan6.com

Kasamago.com, —

Dalam suatu tugas rutin, siapa yang menyangka tugas tersebut berbalik berbuah menjadi tragedi yang tidak di inginkan oleh siapapun.

Itulah yang terjadi pada Senin, 09 Oktober 2017 silam berlokasi di kompleks Pendopo Si Panji Purwokerto, Ibukota Kabupaten Banyumas.

Kronologis

Kabar tentang adanya Aksi Unjuk Rasa menentang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB) di Lereng Gunung Slamet oleh PT Sejahtera Alam Energi (SAE). Aksi ini segera membuat pihak Aparat keamanan yang terdiri dari Polisi, Brimob dan Satpol PP bersiap diri Serta pihak Wartawan pun siap melaksanakan tugas profesi nya.

Pihak keamanan telah bersiaga sejak jam 7 pagi di Pendopo Si Panji, sedangkan pihak Demonstran mulai berdatangan pada pukul 9 pagi, sedangkan para Wartawan tidak memiliki jam pasti kapan datangnya.

Aksi Unjuk rasa berlangsung hingga sore hari, bertahan dari guyuran hujan dengan mendirikan tenda dan bivak. Mendekati batas waktu unjuk rasa, yakni pukul 6 petang, pihak Kepolisian memberikan himbauan terus menerus agar unjuk rasa bubar.

Aksi Unjuk rasa terus berlanjut melewati batas aturan, di pihak Aparat keamanan sendiri sudah terlihat capek, letih, bosan karena harus berjaga sejak pagi. Apalagi berbagai suara provokatif kian bersahut sahutan mencoba menguji mental, kesabaran dan psikis Aparat keamanan.

Ketika waktu kian beranjak larut malam, batas kesabaran Aparat pun habis. Aksi pembubaran represif dilakukan, masa pengunjuk rasa kocar kacir. Polisi dan Brimob bertugas membubarkan Paksa dan mengamankan provokator , Sedangkan Satpol PP bertugas membongkar tenda demonstran serta mengamankan Kompleks Pendopo Si Panji.

Dalam suasana chaos inilah, tragedi itu terjadi. Dan semua sudah tahu beritanya di media massa.

Hubungan Strategis

Sejatinya, Dalam suatu Aksi Unjuk Rasa disanalah terdapat sebuah pertandingan American Football (Rugby) dengan semangat penuh tujuan yang di cita citakan.

Di sisi Pemain, ada para Demonstran di pihak A dan Aparat Keamanan di pihak B, plus Kalangan wartawan sebagai Peliput pertandingan. Wasitnya adalah masing masing pimpinan. Ketiga nya memiliki peran yang saling terintegrasi, tidak dapat berdiri sendiri dan dipisahkan. Strategis pokoknya.

Bayangkan dalam suatu pertandingan tidak ada salah satu pihak, ga mungkin. Bolehlah tanpa Wartawan, tapi rasanya ambyar dan kehilangan ritme nya. Semua nya memiliki peran dan tujuannya.

Para Demonstran ingin agar suara tuntutannya di dengar oleh para Penguasa dan Stakeholder, pihak Aparat Keamanan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, lalu pulang istirahat, pihak Wartawan melaksanakan profesinya menyampaikan informasi pada publik. Semuanya punya tujuan mulia.

Namun, ketika ada aturan yang dilanggar, kartu kuning dan merah pun terbit, jika sampai terjadi tragedi maka itu adalah bagian dari resiko yang tentu tidak di harapkan siapapun. Seyogyanya, semua dapat dimusyawarahkan dengan baik sehingga berujung pada penyelesaian terbaik, agar kedepan Pertandingan dapat dilangsungkan dengan lebih baik lagi tanpa pelanggaran suatu apapun.

Resiko Terbesar adalah tidak mengambil Resiko sama sekali ~ Mark Zuckeberg

Comments

comments

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *