HUT TNI, Kesederhanaan diantara ancaman Musang dan Naga Laut Utara

Kasamago.com – – HUT TNI telah lama berlalu, 5 Oktober 2016. Namun masih dibulan yang sama, agaknya Saya tidak terlalu merasa aneh untuk menelurkan artikel memperingati HUT TNI ke 71 tahun sebagai bentuk rasa bangga dan hormat saya kepada para Pelindung tanah air Indonesia.

Ada yang unik dan berbeda dalam perayaan HUT TNI tahun 2016, biasanya saya dengan begitu ambisius menanti kemeriahan Show of Force Alutsista dan aksi Prajurit TNI tetapi kenyataanya berkata lain. HUT TNI dimeriahkan dalam kesederhanaan dan kesyahduan demi menghormati kondisi perekonomian bangsa yang masih jauh dari impian.

Meski sedikit terkejut, saya justru semakin bangga dan terhadap terhadap kebijakan yang diambil TNI, menutup gemerlap kemeriahan perayaan HUT TNI menjadi sebuah rencana dan strategi luar biasa yang lebih dibutuhkan negara ini dalam menghadapi berbagai ancaman dan gangguan besar yang akan dihadapi kelak. Rencana dan strategi ini terwujud dalam latihan militer sekala besar Armada Jaya dan Angkasa Yudha yang dilaksanakan rutin setiap Tahun.

Armada Jaya dan Angkasa Yudha

Dua latihan terbesar TNI di matra laut dan matra udara yang dilaksanakan rutin tiap tahun demi menjaga profesionalitas, kesiapan unsur tempur dan uji coba  Alutsista terbaru milik kedua matra kepada rakyat Indonesia. Puncak dari latihan Armada Jaya XXXIV/2016 langsung di pantau oleh Presiden sebagai Commander in Chief TNI. Di puncak latihan, Kapal Perang dan Kapal selam TNI AL mempertontonkan aksi penembangkan Rudal  C-705, C-802 dan Torpedo SUT.

Ada banyak Alutsista TNI AL yang dilepas dari kandang, diantara nya 17 PKR, 2 KS, 2 BAP, 8 KCR, 2 KCT, 2 BR, 2 PR, 4 BCM, dan 1 BTD. Seluruh unsur TNI AL , termasuk marinir dengan senjata MLRS terbarunya RM 70 Vampir dan RM 79 Grad. Armada Jaya XXXIV/2016 berlangsung sukses meski diwarnai insiden macetnya peluncuran rudal C-802 dan keberadaan Alusista strategis lain yang masih tertutup rapat.

Latihan Angkasa Yudha lebih menarik lagi untuk disimak, lokasi rencana awal di Bangka Belitung, tiba tiba saja menjelang hari H latihan, Angkasa Yudha mendadak berganti lokasi menuju Natuna, Kepulauan Riau. Ada apa gerangan? Jelas ada sesuatu yang gawat atau penting, kenapa Natuna menjadi lokasi latihan utama Angkasa Yudha. Perkiraan umum, ada ekskalasi ancaman dari Upil dan Naga Laut Utara.

Menjegal Musang dan melawan Naga Laut Utara

Sejak dahulu kala pasca Perang Dingin berakhir dan Indonesia memasuki era Reformasi, Republik Indonesia memiliki ancaman asing laten dari kelompok yang bernama Musang, akronim dari Malaysia, Usa, Singapura, Australia, dan New Guinea. Akan tetapi sejak Tiongkok bergeliat bangkit di tahun 2008 dan berubah menjadi Naga Laut Utara, Hegemoni Amerika di Pasifik Goyah dan Laut China Selatan memanas. Filipina, Vietnam berang, dan Indonesia ikut berang akibat “Nine Dash line” ,garis putus putus yang mencaplok seluruh Laut China Selatan sebagai bagian dari kekuasaan Tiongkok berdasarkan peta kuno Dinasti Ming.

Filipina dengan presiden barunya, Rodrigo Duterte segera membuat perubahan drastis, memperbaiki keamanan dalam negeri, dan siap lantang melawan klaim sepihak oleh Tiongkok. Natuna yang terancam pula oleh klaim Tiongkok membuat Indonesia mau tidak mau menyiapkan diri menghadapi situasi terburuk, baik militer maupun non militer. Tak hanya secara militer di Natuna, Ancaman Tiongkok pun mulai menarget jantung Republik, sektor perekonomian dan the Priority, Ibu Kota Jakarta.

Membangkitkan Naga Laut Selatan

Salah satu upaya militer yang akan dipersiapkan TNI menghadapi Naga Laut Utara adalah membangkitkan Naga Laut Selatan dari tidur panjangnya, Dunia dan Kawasan asia tenggara mengetahui, bahwa penguasa ASEAN sesungguhnya adalah Naga Laut Selatan. Tiongkok yang telah menjelma sebagai Naga Laut Utara merasa perlu untuk segera menemukan sumber energi dan pangan terbaru guna menghidupi rakyatnya yang hampir menyentuh 2 Milyar jiwa.

Asia Tenggara adalah the Precious Target

Sayangnya untuk menguasai Asia Tenggara, Tiongkok harus menaklukan dahulu Naga Laut Selatan sebagai penguasanya yang tidak lain adalah Indonesia. di Afrika, Tiongkok sukses menaklukan Zimbabwe dengan menerapkan Yuan sebagai mata uang resmi Zimbabwe. Negara ini tak berkutik akibat hutang yang tak mampu dibayarkan ke Tiongkok.

Waspadalah.. Bangsa Tiongkok sejak jaman Singasari sudah berniat menaklukan Asia Tenggara dan Nusantara, momen itu telah tiba ketika Tiongkok berhasil menjadi negara superpower bersama Amerika dan Russia. Tidaklah heran bila beberapa waktu lalu Menhan dan Laksamana TNI AL tertarik untuk mengakuisisi salah satu fregate atau light destroyer paling mematikan di dunia, Iver Huitfeldt Class dari Denmark.

Iver Huitfeldt Class didaulat sebagai pengganti Fregate Ahmad Yani Class dan pendamping Frigate (PKR) yang tengah dibangun PT PAL ,Sigma 10514. Alutsista strategis TNI AL akan semakin tajam membara bersama alutsista ghaib lain nya seperti LPD Mistral, Fregate Steregushchy Class, Kapal selam Amur dan Kilo Class, KRI klewang dan yang terghaib, Kapal selam nuklir, Astute Class dari Inggris.

Di matra udara tak ketinggalan armada Sukhoi Su30 dan Su35, UAV Taktis Aerostar dari Israel, S-300, Oerlikon Skyshield, Saab GlobalEye, dan alutsista ghaib seperti Mirage 2000N, TU-160 Whiteswan, Dassault Rafale, dan Eurofighter Typhoon. Seluruh Alutsista ghaib diatas jumlah dan persenjatannya masih misteri, namanya juga ghaib. Yang Jelas, dengan tulang dan otot diatas TNI memiliki kemampuan untuk menghalau Musang dan Mengusir Naga Laut Utara.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *