Konflik ZhenBao Island, Ketika Adik menikam Kakak nya sendiri

Kasamago.com – – Nekad, Gila, dan tak habis dipikir ketika Republik Rakyat Tiongkok secara tiba-tiba meng Invasi Pulau ZhenBao yang masuk dalam teritori kekuasaan Uni Soviet, Guru sekaligus Kakak dari Tiongkok sendiri !.  Uni Soviet jelas kaget bukan kepalang, karena sebagai sekutu dekatnya, China tak mungkin berani bertindak kurang ajar terhadap Soviet.

Tahun 1969, dalam ketenangan dan tiada gelagat melakukan aksi militer, secara mengejutkan China menyerang Pulau Zhenbao, Ironisnya, senjata yang digunakan adalah Ak47 dan Tank T55 yang dilisensi dari Soviet.

Uni Soviet langsung melakukan tindakan sigap dan tangkas dengan balik menginvasi wilayah XinJiang, Bahkan Uni Soviet berniat membom Nuklir China jika tidak dilarang oleh USA.

Jalannya Konflik

Diakhir dekade 1950an dan di dekade 1960, hubungan kedua raksasa komunis sebenarnya telah berada pada tensi tinggi, sebagian besar bermuara tentang permasalahan perbatasan kedua negara yang mencapai ribuan kilometer.  Zhenbao Island atau Damansky Island telah menjadi ajang perdebatan sejak era Dinasti Qing dan Ketsaran Rusia, berbagai perjanjian telah disepakati kedua Negara namun masih tetap menyimpan bara konflik yang belum berakhir. Baik Uni Soviet maupun China tetap berkeinginan mengontrol seluruh pulau yang berada di tengah Sungai Ussuri.

2 Maret 1969, Pasukan China (People Liberation Army) mulai menyerang tentara perbatasan Uni Soviet sehingga menimbulkan banyak korban di pihak Soviet.  Soviet lalu membalas dengan mengerahkan puluhan Tank T-62 untuk menyerang Pasukan Patroli China, sayangnya usaha Soviet mengalami hambatan akibat masifnya tembakan artileri  PLA. Dengan bantuan dari Angkatan Laut PLA, Banyak Tank-62 Soviet yang kemudian dilumpuhkan dan diambil alih oleh Tentara PLA.

Upaya Soviet memenangkan konflik dengan mengirim Tank, APC, dan artileri terus dipatahkan pasukan China, sehingga memaksa pasukan soviet gagal menguasai Pulau. Pihak China sendiri mengirimkan pasukan infantry dan dukungan artilery.

Akhir Perang

Guna mencegah terjadi eskalasi konflik lebih besar antara Dua negara raksasa komunis, September  1969 Perdana Menteri Uni Soviet Alexei Kosygin bertemu dengan rekat sejawatnya dari China,  Zhou Enlai untuk membahas jalan keluar dari konflik kedua negara.  Kedua nya sepakat mengembalikan lagi para duta besarnya dan memulai negosiasi perbatasan kedua negara. Berbagai diaolog menemukan solusi permasalahan yang tepat terus berlangsung, dan Amerika ketika itu turut menengahi jalannya perundingan dan diyakini kuat lebih memihak kepada China demi upaya Amerika menjalin hubungan resmi dengan China Komunis.

Akhir dari konflik adalah disetujui garis batas demakrasi di Zhenbao Island yang masih bersifat sementara, pada 1991 pasca jatuhnya Uni Soviet, Kedua pihak setuju Zhenbao Island dikelola oleh China. Pada Oktober 1995 dicapai lagi kesepakatan membagi area perbatasan di Zhenbao Island. Dan Kesepakatan baru terjalin pada Tahun 2003. Hasil dari kesepakatan ini adalah China berhak mengontrol Tarabarov Island (Yinlong Island) , Zhenbao Island, dan setengah dari Bolshov  Ussuriysky Island (Heixiazi Island). Perjanjian ini kemudian diratifikasi pada Tahun 2005 dan di finalisasi pada Tahun 2008 saat Perdana Mentri China Yang Jiechi bertemu dengan Perdana menteri Russia Sergei Lavrov menandatangani perjanjian penetapan garis batas perbatasan dan protokol pengelolaan perbatasan bersama diantara kedua negara.

Insiden yang dikenal sebagai Sino-Russia border conflict dapat menjadi semacam cerminan bahwa negara bertetangga dan dianggap saling bersekutu juga masih dapat pula terjadi perselisihan sengit yang berujung perang. Tak ada kawan atau partner yang benar-benar abadi, suatu saat bila ada kepentingan yang berbeda, keduanya yang tadinya saling bergandengan tangan berubah saling baku hantam.

Hikmah yang diambil dari insiden ini adalah kebijakan masing-masing pemimpin negara yang mengharapkan solusi damai mengatasi konflik ketimbang berkembang menjadi perang besar yang pasti akan memporak porandakan kedua pihak.  Apalagi Soviet pun tak segan me Nuklir China bila perlu, tentu dunia tak ingin menyaksikan lagi Hiroshima dan Nagasaki baru di wilayah China.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *