KPU, Buatlah Sejarah Emas, Selamatkan masa depan Republik

Fall of the Empire
Pic by Game Informer

Kasamago.com – Akhirnya, pertanda alam itu semakin kuat, tak terbenduk, bak meteor yang bersiap menghujam bumi. Presiden RI ke 7 alias Joko Widodo terasa kehilangan angin pada layar kapalnya, sebagai petahana seharusnya dia membuat suatu gebrakan positif, karya yang berguna bagi rakyatnya, sehingga memperkokoh sinyal untuk terpilih kedua kalinya.

Tetapi, seperti yang sudah saya tulis dalam artikel sebelum nya, yakni Kemenangan yang tertunda dan Jokowi Has Fallen?, Menjelang hari pencoblosan, berbagai blunder tercipta bak rangkaian kembang api. Jika bulan Februari lalu penuh dengan Blunder, di bulan maret, blunder dipadu tragedi.

Jika sudah begitu, Kubu Prabowo Subianto tinggal menyelesaikan agenda kampanye nya. Selanjutnya tugas KPU lah yang menentukan, Raih Kepercayaan Publik dengan membuat sejarah emas, menyelamatkan masa depan Republik.

Pilpres 2019 adalah suatu Perang Asimetris, bukan hanya memilih calon Pemimpin melain pertempuran antara Pandawa vs Kurawa, Sith vs Jedi, Akal Sehat vs Kedunguan, Pengkhianat vs Patriot, Anti Islam vs Islam dan lain nya.

Berbagai Peristiwa negatif Petahana

Saya hanya bisa menghela nafas panjang, berbeda dengan situasi yang dialami Presiden ke 6 RI, SBY. Di akhir jabatan periode pertama nya, Index kepuasan publik terhadap SBY sangat positif, antara lain pengangkatan Honorer serentak dan modernisasi Alutsista TNI yang dikenal sebagai Minimum Essential Forces (MEF). SBY pun sukses dua Periode.

Kini, Presiden ke 7 terasa dilanda kepanikan dan keletihan mendalam sehingga tanda sadar atau tidak sering memunculkan berbagai peristiwa negatif yang merusak elektabilitasnya, yakni :

  • Hoax pembebasan TKI Siti Aisyah
  • Korupsi Romi dan Kementerian Agama
  • keberpihakan Polri dalam Aplikasi Sambhar dan Dualisme Kepemimpinan didalam Polri.
  • Presiden yang enggan cuti
  • Klaim kesuksesan Proyek MRT
  • Memanfaatkan Jabatan untuk Kampanye
  • Konser Slank yang dinilai gagal
  • Mulai Pecahnya Koalisi
  • Beredarnya Kampanye hitam dalam bentuk Tabloid
  • Memberantas Hoax dengan UU Terorisme
  • Pidato “kemarahan” nya di Yogyakarta
  • Memanfaatkan isu Khilafah
  • Kebohongan Buy Back Indosat, Esemka dan Bencana Lombok
  • Penolakan Keraton Yogyakarta
  • Kegagalan NU menyaingi aksi 212 dan reuni 212
  • Mempolitisir nenek Irah di Mataram Lombok
  • Instruksi Presiden memilih baju putih
  • Hasil Litbang Kompas tentang elektabilitas Jokowi dibawah 50%
  • Dan sebagai nya.

Peristiwa  di atas dapat di amati sebagai momen berakhirnya kekuasaan Joko Widodo. Sudah terlambat untuk mengubah keadaan, kecuali Abuse of Power, memanfaatkan Kekuasaan, Ilmu Sihir (Metafisik) hingga KPU.

Upaya propaganda media seperti 2014 lalu sudah kadaluarasa, masyarakat memanfaatkan sosial media sebagai counterstrike nya, plus muncul nya Pejuang Anonym via Twitter yang begitu dashyat membocorkan rencana Penguasa.

Debat Capres ke 4, the truely Prabowo 

Dalam debat Capres sebelum nya, saya lebih banyak menguap lalu pergi, Sependapat dengan Sujiwo Tedjo di ILC, bahwa acara Debat Capres bukan level Presiden tapi level Dirjen.

Kritikan masyarakat dipenuhi KPU dengan mengUpgrade gaya Debat, Puncaknya pada Debat ke 4 ,30 Maret 2019 lalu. Prabowo yang selama ini tampil terlalu formal akhirnya menunjukan taji nya sebagai Pemimpin Garuda. Tema Ideologi, Pertahanan, Hubungan Luar Negeri dan Pemerintahan adalah menu favoritnya. Debat kali ini saya tonton hingga babak akhir.

KPU is the Key

Seperti kata petinggi Nazi, Bukan jumlah suara yang menentukan tapi siapa yang menghitung suara. Damn, itulah kunci kekhawatiran publik selama ini yang menginginkan perubahan kepemimpinan. KPU diharapkan menjadi dewa penolong yang mampu menyelenggarakan Pemilu secara Adil, Jujur, Bersih dan BertanggungJawab. Insyallah, Proses yang baik menghasilkan Output yang baik pula.

Peraturan, Hutang, Tenaga Kerja Asing, Aset BUMN, Objek Vital, skema perjanjian ekonomi dan energi yang merugikan kepentingan Negara sekarang ini menjadi gerbang kehancuran Republik dimasa mendatang. Fiksi Indonesia bubar 2030 dapat menjadi realita pahit. Indonesia darurat Pemimpin hebat seperti Mahathir Mohamad dan Vladimir Putin, karena Senjata ampuh yang dimiliki suatu negara bukan Bom Nuklir tetapi Pemimpin.

Di lapangan, Rakyat sudah menghendaki pergantian kepemimpinan. Kehadiran 02 disambut meriah penuh sesak, sebaliknya 01 tampak tertatih tatih.

Last, Allah SWT tampak berskenario memberikan cobaan dahulu (penyakit) sebelum mendapatkan Pemimpin Tepat (Obat), meski bukan yang terbaik namun dapat memberikan harapan yang lebih baik.

Baca juga :

The Book Wars

Pemimpin Indonesia

Indonesia dikepung Militer Asing

Ambisi China di Pasifik

 

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *