Mari Meng Anak Emaskan Angkatan Udara

Kasamago.com — Sebuah suguhan menarik di pagi hari, Kamis 25 Juni 2015 di salah satu program bincang tv Swasta nasiona.  Terjadi diskusi menarik antara pakar pertahanan, anggota DPR dan Panglima TNI tentang tantangan dan strategi pertahanan terbaik bagi TNI dalam menghadapi situasi sekarang dan yang akan datang.

Sungguh intuitif dan beproyeksi jauh kedepan, apa yang dipaparkan oleh sang pakar Pertahanan terhadap isu pertahanan dan keamanan yang terkini dimana isu tersebut tak boleh terabaikan oleh Militer RI mengingat berpotensi pula memberikan impact pada pertahanan Nasional. Isu tersebut antara lain konflik laut China Selatan, Ambalat dan pelanggaran kedaulatan lainnya, nah ketiga hal potensi konflik lebih didominasi oleh kekuatan laut dan udara, oleh karena nya lah sebagai upaya antisipatif, matra Laut dan Udara ditakdirkan sebagai komponen utama pelindung dan penggebuk terdepan jika terjadi konflik. Apa yang dipaparkan Pakar pertahanan layak sekali untuk dikaji dan di terapkan oleh para pemimpin militer RI, Bila terjadi konflik maka pengiriman armada laut TNI AL senantiasa membutuhkan payung perlindungan udara, mengantisipasi lawan dibacking oleh kekuatan udara pula.

Khusus membahas Angkatan Udara, dalam kacamata pribadi, matra pelindung angkasa Republik Indonesia dapat disebut matra yang agak terabaikan serta kurang terpriotitaskan. Padahal memiliki angkatan udara yang tangguh apalagi mampu mencapai superioty udara di kawasan adalah nilai strategis bagi pertempuran modern. Dimana pelanggaran kedaulatan dan ancamannya sering pula dilakukan di udara, begitu pula saat darurat yang membutuhkan reaksi cepat dan efektif, kekuatan udara lah yang sanggup menyambangi sang lawan dengan kecepatan terbaik. Apalagi bila TNI mengejar dogma Pre emptive Strike, Menghadang lawan, menghabisi lawan, sebelum sang lawan mencapai wilayah NKRI. Model Pre Emptive Strike adalah cara terpopuler sekarang ini, mengurangi resiko gangguan stabilitas keamanan negeri ,dan wujud efek deterens bagi lawan sehingga menuntut mereka berpikir ulang untuk menyerang kembali.

Kemampuan menyerang dahulu secara dini sebelum lawan bak sabetan maut Samurai atau lemparan Shuriken Ninja, menunjukan pula betapa tangkas dan waspada nya kekuatan militer suatu negara. Di ASEAN, Negara yang paling mengutamakan model Pre Empetive Strike adalah Singapura, negara dengan luas sebulatan upil namun memiliki persenjataan paling lengkap dan modern. Pertahanannya daratnya yang lemah, dan merupakan  area hot spot yang mudah dibidik sekali hantam, membuat Singapura mengandalkan upaya menyerang dan bertahan diluar wilayahnya. Hadang dan Hancurkan musuh sedini mungkin sebelum mereka memasuki wilayahnya.

Itulah pentingnya keunggulan matra Udara bagi TNI Angkatan Udara, terakhir kali TNI AU menjadi tulang punggung penting dalam sebuah pergelaran perang adalah era Trikora 1960 an silam. Lihatlah berbagai Perlengkapan Perang TNI AU yang luar biasa fantastis di jamannya. Semuanya tersedia kumplit dari perisai udara, rudal, pesawat tempur, anti kapal selam, bomber, angkut berat dan lainnya. TNI AU mengalami masa stagnan di era Orde Baru, kini ketika Presiden SBY mencanangkan program modernisasi Alutsista TNI melalui Minimum Essential Forces (MEF), Matra Udara turut kecipratan pula, beberapa mesin perang udara terbaru didatangkan meski masih jauh dari yang diharapkan. Namun bila Pemangku kebijakan negeri ini tetap konsisten menjalan program MEF, kemungkinan TNI AU meraih superioritas udara ala Trikora silam dapat terwujud.. tentu bertahap, karena saya merasa, ada pihak tertentu yang tak menginginkan Negeri ini memiliki angkatan udara yang digdaya.

Salam Komando !

Swa Bhuwana Paksa

Comments

comments

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *