Melawan Rezim Firaun 2.0

Diktator
Diktator – pic by BukitGagasan

Kasamago.com – Masyarakat Dunia sudah turun menurun mengenal siapa itu Firaun, suatu julukan bagi Raja Raja Mesir Kuno yang sudah identik dengan kezhaliman dan ketidakadilan. 2015 – 2019, Republik Indonesia mengalami apa yang sudah di peringatkan ,hadirnya Pemerintahan Firaun di era modern yang memanfaatkan Pencitraan semu media, Opini dan Abuse of Power Perangkat Negara.

Firaun 2.0

Sejarah telah berulang, History Repeat Itself, suatu tagline abadi yang mengingatkan bahwa sejarah selalu berulang, untuk itu umat manusia harus belajar dari sejarah atau sejarah yang akan memberikan pelajaran.

Sejarah Firaun kini hadir di Nusantara, Bumi super kaya yang menjadi rujukan peradaban Atlantis, tempat dimana salah satu Kerajaan2 termashyur dunia berdiri. Peribahasa Kere Munggah Bale, Petruk Dadi Ratu, sekarang menjadi nyata. Inilah yang disebut Rezim Firaun 2.0

Sudah tak perlu dibahas lagi, apa saja yang terjadi di bumi Nusantara ketika Firaun 2.0 ini berkuasa, gonjang ganjing disegala lini meski tak sampai terjadi Chaos ala Arab Spring dan Venezuela, berkat sepak terjang para Dharma Putra, Patriot negeri yang berjuang dilorong kesunyian.

Baca juga : Hari Kebangkitan Rakyat

Lawan atau Tertawan

Sesuai prediksi Rakyat pendukung Perubahan, Pemilu Presiden 2019 diwarnai seabrek kecurangan, wasit maupun pengawas, yakni KPU dan Bawaslu terindikasi kuat tidak lagi Independen, tunduk pada kekuasaan Istana.

Perhitungan Quick Count yang manipulatif, Sistem Informasi SITUNG KPU yang kacau, Pelaksanaan Pemilu yang dipenuhi pemilih Siluman, Kotak Kardus yang fenomenal, dan paling tragis, meninggalnya 600 lebih Petugas KPPS di seluruh Indonesia , menjadikan Pemilu 2019 adalah Tragedi paling mematikan sepanjang Sejarah Republik. The First Time in History, ‘n must be Ended. Tragisnya tidak ada duca cita dan investigasi mendalam dari Negara.

Teror Penguasa

Tak hanya Anti Kritik, Rezim yang sudah off side sejuta kali, Kartu merah berkali kali justru semakin otoritan, menghalalkan segala cara, termasuk membentur Rakyat dengan Rakyat, Ormas dengan Ormas, Polisi dengan Warga. Hukum dipermainkan, dimanfaatkan, dimanipulasi demi kepentingan Rezim.

Polarisasi dan Diskriminasi tumbuh ditengah masyarakat, konflik dapat meletus kapan saja.  Suara kebenaran dari para tokoh di  Kriminalisasi, Media Sosial nya di blokir. Ekonomi acak adut, utang mencapai 5000 triliun lebih (347 Triliun/tahun). Pasca Reformasi, Indonesia benar benar dihancurkan total, mafia, korporasi, dan elite global mengendalikan penuh negeri ini siapapun Presiden nya.

Bocornya pendapatan negara ribuan Triliun, Buku Paradoks Indonesia menjelaskan secara gamblang bagaimana Indonesia kehilangan potensi ekonomi yang sangat mashyur nilai nya. Rezim bermodal pencitraan, dibelakangnya main gebuk sana sini tanpa nurani.

Baca juga : Bioskop bukan alat Politik

Menuju IndoChina

Rezim sengaja mengundang masuk Warga Negara China ke teritori nasional. Mencuatnya wacana Dwi Kewarganegaraan, kemudahan Asing mendapatkan KTP ,Jebakan Utang China dan Proyek OBOR adalah bukti Kedaulatan Republik terkoyak dari dalam, Penjajahan China perlahan terjadi.

Kacau nya situasi didalam negeri membuat Indonesia kehilangan pamor dan kekuatan diplomatis di panggung Internasional. Pemimpin yang tidak layak menjadi biang kerok utama permasalahan ini.

Di sektor pertahanan, Militer terasa di kebiri, anggaran dibawah kepolisian yang mencapa i17 Triliun. Ini sungguh gila dan berbahaya.

Revolusi

Jika jalan Konstitusional (softpower) tidak lagi mempan, maka jalan terakhir Rakyat merebut kedaulatannya kembali adalah Revolusi,  People Powers menjadi salah satu contoh nya. Thailand dan Filipina adalah dua negara dikawasan yang sukses menerapkan People Powers. Rezim begitu ketakutan sehingga menjuluki gerakan konstitusional ini sebagai makar.

Padahal People Powers adalah bentuk kemarahan publik terhadap penguasa, bisa dilakukan dengan demonstrasi tanpa henti, mogok nasional, menolak membayar pajak , Rush Money yang mengakibatkan Pemerintahan berhenti berjalan.

Perang Kemerdekaan, Tragedi G30S, Tragedi 98 terasa akan terulang lagi.. Pedih dan Pahit rasanya. Harapan ada pada KPU, berpihak pada Kebenaran atau TNI memainkan peran mengambil alih situasi sebelum bencana terjadi.

Last, Hikmah di rezim ini adalah, Allah SWT seolah membedah, menyaring dan memancing mana pengkhianat, mana munafik di tubuh rakyat Indonesia sehingga tahu siapa saja yang berdiri di kebaikan dan di kebathilan. AllahuAKbar. Semoga NKRI senantiasa dalam perlindungan Allah SWT sehingga terbebas dari bencana Balkanisasi ala Yugoslavia silam.

Baca juga : Indonesia Bubar 2030

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *