Mengenal Sejarah etnis Rohingya

Teroris
wallpaperwind.com

Kasamago.com ;

Begitu hive dan viral berita tentang Pembantaian (Genocide) atas Etnis Rohingya di Burma atau Myanmar, diri ini menjadi gemertak untuk ikut menyuarakan kecaman terhadap Penguasa Myanmar dan PBB yang terkesan lambat mengantisipasinya.

Syukurlah, sebelum mempublish artikel dengan aura berapi api, pikiran saya kembali sejuk setelah membaca ulasan gamblang di Situs Patriot Garuda.

Konflik Rohingya di Wilayah Rakhine Myanmar cukup kompleks dan bercabang, ada banyak kepentingan, baik politis maupun energi. Konon, Sikap tenang Myanmar terjadi karena ada back up dari Beijing dan Hanoi.

Penindasan terhadap etnis Rohingya adalah sebuah bom waktu yang telah tertanam kuat sejak Kolonial Inggris meninggalkan Birma/Myanmar. Konflik turun temurun ini diperkeruh dengan unsur Radikalisme, Sparatisme, dan Energi dimana wilayah Rakhine mengandung ladang Gas dan Minyak.

Jika tidak segera dipadamkan, Api Rohingya dapat melebar menjadi Konflik seperti Suriah atau Marawi

Sejarah Rohingya

Saya percaya diluar sana, termasuk saya yang belum tahu Siapa dan Bagaimana Rohingya kok bisa ada di Myanmar yang sudah jelas berbeda etnis. Asia Selatan vs Indochina.

So, mari belajar sejarah Rohingya yang ternyata lumayan panjang dan cukup saya tuliskan inti sari nya saja.

Adalah Arakan, sebuah wilayah yang dihuni oleh mayoritas  Muslim Rohingya. Semula Arakan bernama Rohang, dan masyarakatnya disebut Rohingya. Sehingga nama Muslim Arakan juga sebutan lain bagi etnis Rohingya.

Kaum muslim Arakan sudah ada jauh sebelum negara Burma atau Myanmar merdeka dari Inggris pada 1948. Islam masuk ke wilayah Arakan pada tahun 877 M pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid melalui  para pedagang dan Prajurit Arab.

Saat itu Daulah al-Khilafah menjadi negara besar di dunia selama beberapa Abad dan Islam menyebar dengan pesan di seluruh Burma.

Kesultanan Arakan

Arakan atau Rohang, kemudian menjadi Kesulatanan Islam yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Syah dengan bantuan masyarakat muslim di Bengal (Bangladesh). Kerajaan / Kesultanan Arakan berdiri pada tahun 1430 hingga 1784, berarti Kaum Muslimin memerintah wilayah Arakan lebih dari 3,5 abad.

Arakan kian ramai oleh pendatang dari berbagai macam suku bangsa, pencampuran suku ini akhirnya membentuk suku baru yakni Rohingya, oleh karenanya Muslim Rohingya sudah ada di Arakan sejak abad ke 7.

Kehancuran Kesultanan Arakan

Pada 1784 M Bodawphaya, raja Burma dari Dinasti Konbaung menaklukan Arakan. Tahun 1824 Inggris menancapkan kuku nya di Burma termasuk Arakan. 1937, Inggris menggabungkan Arakan ke dalam Burma, dan 1948, Inggris memberikan kemerdekaan pada Burma.

Sakitnya, Inggris melupakan keberadaan Ras Rohingya, Pemerintah Burma pun tidak menghendaki adanya Rohingya di wilayahnya. Abad penderitaan bagi Rohingya pun di mulai.

Konflik terus melanda Etnis Rohingya dan berikut daftarnya :

  • 1942, Jepang menguasai Burma, Konflik berbau Agama dan Ras kembali tersulut.
  • 1962, Kudeta militer di Burma oleh Jendral Ne Win. Pembantaian terhadap Muslim Rohingya tetap berlanjut.
  • 1978, Junta Militer mengusir setengah juta Muslim ke luar Burma.
  • 1982, Ratusan Ribu kaum muslimin mengungsi ke luar negeri. Diskriminasi diterapkan Pemerintah Myanmar terhadap Kaum Muslim.
  • 1991, Kembali Pengungsian besar besaran terjadi.
  • 2012, Bulan juni, Orang Orang Budha menyerang bus yang mengangkut Kaum Muslim. Konflik Berdarah Pecah, Bangladesh menolak menerima Pengungsi Muslim.

Akhir Rohingya

Pada intinya, Ras Rohingya (yang begitu berbeda dengan Ras Myanmar) tidak diinginkan keberadaanya, bahkan kalau perlu dihapus dan dilupakan dari sejarah.

Jika faktor kebencian ini tak segera dienyahkan, mau sampai kapan pun, Rohingya, Kaum Radikal, dan Penguasa Myanmar akan terus bergesekan merenggut korban jiwa.

Indonesia sebagai Big Brother, negara terbesar di kawasan, berpenduduk Muslim Terbesar, dan membawa amanat agung pembukaan UUD 1945, “Ikut menjaga kedamaian dunia” adalah kunci bagi penyelesaian Tragedi Rohingya.

Semoga dengan upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia, Myanmar dapat berbenah pelan-pelan dengan mengakui Ras Rohingya sebagai bagian dari keutuhan Myanmar, jikalau tidak maka menjadikan Rakhine sebagai wilayah Otonomi khusus adalah penyelesaian terindah.

Last, jadi teringat dengan aksi legendaris Presiden Soeharto di wilayah Konflik Bosnia tahun 1995 silam. Entah ada hubungannya atau tidak, yang pasti pasca kehadiran Pak Harto di Sarajevo, Konflik Bosnia akhirnya berakhir damai.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *