Menu Baru tapi Lama bernama Tax Amnesty

Kasamago.com — Negeri kembali tersenggol pusaran pro kontra seolah tiada habisnya, belum lenyap dari memori kita bagaimana wacana kenaikan harga rokok menjadi 50 ribu berimbas pada polemik pro kontra yang begitu masif sehingga entah bagaimana kelanjutannya. Wacana tinggal wacana dan kini berlanjut pada kebijakan baru Pemerintah yang sebenarnya menu lama tapi masih terkesan baru bernama Tax Amnesty.

Kenapa terasa baru tetapi berkesan lama? Kebijakan Tax Amnesty di tanah air sudah pernah diterapkan dijaman Orde baru dan Jaman Presiden SBY yakni di Tahun 1984 dengan hasil kurang memuaskan dan ditahun 2008 dengan sasaran sangat terbatas. Bagi saya sendiri maupun mungkin masyarakat kebanyakan, Tax Amnesty masih terasa asing di telinga, entah karena minim sosialisasi atau kebijakan tentang Tax Amnesty kurang di ajarkan di buku-buku pelajaran ekonomi/perpajakan.

Saya pun mengetahui adanya penerapan Tax Amnesty 3 bulan lalu melalui spanduk tentang Tax Amnesty yang tersebar di kantor kantor kecamatan dan Halaman depan Kantor Pajak (KPP). Media pun baru ramai dan hangat membahas Tax Amnesty setelah kebijakan ini menimbulkan pro kontra, keresahan dan ada yang melakukan gugatan di Mahkamah Konstitusi.

Tax Amnesty diterjemahkan berarti Pengampunan Pajak, ada pengampunan berarti telah terjadi kesalahan ataupun tindakan melanggar hukum. Terkait Tax Amnesty, Pikiran saya langsung terbang terbayang tentang kasus Panama Paper yang berisi daftar nama pengusaha, selebritas, dan atlit olah raga ternama yang melindungi harta nya dari kejaran pajak.

Panama Paper lantas melejitkan informasi tentang apa itu perusahaan cangkang dan negara-negara surga bebas pajak (Tax Heaven) yang menjadi brankas favorit para pemiliki dana raksasa untuk menyimpannya dengan aman tanpa ada gangguan dari pungutan Pajak oleh Negara bersangkutan. Lantas Saya berpendapat bahwa munculnya Tax Amnesty pasti ada hubungannya dengan kejadian Panama Paper yakni usaha Negara untuk memanggil, merayu, membujuk para pengemplang pajak dengan dana raksasa agar mau membawa kembali duitnya dari luar negeri ke dalam negeri.

Setelah kembali dan didata, baru Negara segera merangkul (mendekap) para pengemplang dana menjadi Wajib Pajak Baru. Duit raksasa bertriliun triliun diharapkan dapat dipetik pajak nya dan disimpan di dalam negeri. Nah.. Mungkin itu interpretasi dangkal dari Saya terkait penerapan Tax Amnesty.

Disisi lain, banyak pakar dan ahli hukum di tanah air berpendapat bahwa Tax Amnesty adalah kebijakan Blunder terbaru dari Pemerintahan Jokowi.  Salah satu penyebabnya adalah Kebijakan ini tak hanya menyasar 20% dana tersembunyi di luar negeri tetapi juga menyasar 80% wajib pajak di dalam negeri. The Global Review sendiri sampai berasumsi bahwa Tax Amnesty adalah sebuah Hidden Agenda, bagian dari rencana Kapitalisme Global dan sebuah serangan Asimetris ke Indonesia (Asymmetric Warfare). Silahkan baca di Sini dan Sini.

Niatan negera untuk menarget para pengemplang pajak di luar negeri pantas untuk di apresiasi dan didukung penuh, tetapi melihat ketidak jelasan amunisi negera untuk menyedot dana di negara bebas Pajak dikhawatirkan berujung pada kegagalan besar. Bagaimana strategi nya dan apa upaya seandainya negara-negara Tax Heaven pun berusaha mencegah dana asing di negaranya dikembalikan ke negara asalnya.

Tax War jelas telah berkumandang. Singapura yang sangat mengandalkan hidup mati nya pada simpanan dana asing (terutama dari Indonesia) berusaha mencegah dana asing ditarik kembali ke negara asal dengan memberikan banyak fasilitas khusus yang memanjakan pemilik dana. Siapa yang tidak terpincut?? Lalu apa yang ditawarkan Pemerintah Indonesia selain pengampunan pajak, ini yang mesti disiapkan penuh.

Belum lama ini saya tiba tiba mendapat Surat Pemberitahuan agar segera menjadi wajib pajak atas usaha Kaos yang saya miliki, padahal usaha Kaos saya sedang dalam kondisi Off sejak 5 Bulan lalu karena kebangkrutan Supplier. Pajak begitu mudah menyasar usaha kecil bahkan usaha yang sudah tak profit sama sekali, tetapi begitu ironis ketika berhadapan dengan para Pengusaha yang beromset Milyaran sehari.

 

Comments

comments

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *