Metode Penamaan Jalan ala Belanda di Indonesia

Kasamago.com – – Kagum luarbiasa dibalik kolonialisme Belanda yang begitu pahit getir bagi bangsa Indonesia, Belanda tak hanya menunjukan kehebatannya dalam hal kontruksi bangunan, irigasi, tetapi juga penamaan jalan.

Pasca hengkangnya Belanda dari Tanah air dan gemuruh nasionalisme begitu membakar membahana, penamaan jalan di Indonesia yang berbau belanda digantikan dengan nama berbau Indonesia, sebagian besar berasal dari nama pahlawan tanah air.

Di jaman Belanda, penamaan jalan dibagi berdasarkan jenis dan peruntukannya, berikut beberapa contohnya :

Boulevaard

Untuk jalan lebar di tengah jalur hijau contohnya : Oranje Boulevaard (kini Jalan Diponegoro), Nassau Boulevaard (Jalan Imam Bonjol), dan van Heutz Boulevaard (Jalan Teuku Umar). Jalan ini dimasa belanda begitu tenang dan asri, sangat cocok sebagai lokasi pemukiman yang sangat nyaman.

Laan

Untuk jalan penghubung antara jalan ramai, contohnya : Tamarindelaan yang kini menjadi Jalan KH Wahid Hasyim, Alaydruslaan(Jalan Alaydrus), dan Kenarilaan (Jalan Kenari)

Straat

Jalan yang memiliki kegiatan bisnis dan perdagangan, contohnya Kerkstraaat, yang saat ini bernama Jalan Jatinegara Timur. Pasar Baru Straat dan Risjwijkstraat (JalanVeteran). Hingga kini jalan ini tetap ramai sebagai sentra niaga dan pertokoan.

Weg

Nama jalan untuk daerah permukiman, contohnya Javaweg (kini Jalan HOS Tjokroaminoto), Drukerijweg (Jalan Percetakan Negara), dan Jacatraweg (Jalan Pangeran Jayakarta). Kawasan Weg terlarang untuk tempat perdagangan.

Terlihat begitu tertata dan rapi bukan, ketika kawasan atau jalan telah dibagi sesuai peruntukannya tentu suasana kota menjadi nyaman dilihat tidak semrawut mana kawasan hunian mana kawasan perdagangan.

Di Indonesia, seiirng bergeraknya zaman, mau jalanan apapun asalkan ramai, meski kawasan tersebut tadinya adalah kawasan hunian, dalam sekejap mulai nampak rumah rumah yang bersalin rupa sebagai tempat komersial, entah itu ruko, cafe, dsb.

Alangkah Indahnya apalagi Kota-Kota di Indonesia kembali memetakan kawasan sesuai peruntukannya, agar terhindar dari situasi tumpang tindik saling bercampur padu yang tentu nya sangat tak sedap dipandang.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *