Modernisasi Doktrin Perang Rakyat Semesta

Kasamago.com – – Republik Indonesia mengenal suatu sistem pertahanan yang melibatkan seluruh komponen rakyat, sebuah konsep yang mendayagunakan berbagai hal yang dimiliki bangsa untuk membela dan mempertahankan tanah air nya dari ancaman dan  serangan musuh. Sistem dan konsep ini disebut dengan Perang Rakyat Semesta.

Sayangnya Konsepsi ini belum meninggalkan kerangka utama Perang Rakyat semesta yang masih berpatron pada buku masterpiece karangan Jenderal Abdul Haris Nasution berjudul Pokok-Pokok Perang Gerilya. Pokok buku ini sangat istimewa dan menjadi rujukan banyak pihak dalam dan luar, namun perlu segera direvisi penuh agar sesuai dengan selera dan dinamika ancaman yang berkembang saat ini. Perang Rakyat Semesta yang lebih menitik beratkan pada perlawanan/pertahanan secara fisik (Simetris, Konvensional) terhadap ancaman lawan sudah tidak begitu relevan lagi bila dihadapkan pada ancaman dewasa ini yang dapat menjelma dalam berbegai bentuk serangan, bila dalam metode lawas, pokok serangan berbentuk militer (fisik, simetris konvensional, Hardpower) sekarang sudah bermetamorfosa menjadi serangan non militer (Asyimetris, Softpower, Smartpower, Proxy War, Cyber Warfare) dan Gabungan keduanya atau Perang Hybrida.

Contoh perubahan radikal dalam pertempuran modern dapat dicontohkan dalam Tragedi Mei 1998 yang meruntuhkan kemajuan bangsa saat itu, Lepasnya Timor Timur, Perubahan Rezim berdarah di wilayah Timur Tengah (Arab Springs), Perang Cyber antara Iran vs Barat, Krisis Suriah, dan Krisis Ukraina.  Berbagai pola serangan yang menghantam banyak negara tanpa melibatkan dalang sesungguhnya adalah ancaman masa kini yang perlu, sangat dan wajib diwaspadai, diberikan antidot dan berbagai macam langkah penetralnya.

Untuk itulah, berkaca pada hal tersebut, sudah seyogyanya Konsepsi Perang Rakyat Semesta sedikit di ubah, ditambah dan dipoles agar mampu sejaman dengan tantangan masa kini. Perang Gerilya yang melibatkan seluruh komponen bangsa dengan ruh patriotisme dan bela negaranya tetap dijadikan pondasi utama untuk kemudian ditambahkan dengan konsepsi baru dimana perang semesta tak melulu memakai fisik tenaga tradisional melainkan mengerahkan pula kekuatan intelektual, komunikasi, spiritual, baik melalui sarana militer dan non militer yang disediakan negara maupun yang dimiliki masing2 individu yang saling bertalian membentuk senjata dan barrier yang dapat menggantikan Alutsista canggih manapun.

Meski tengah booming gaya ancaman non militer, ancaman secara militer masihlah utuh, secara geopolitik, wilayah nusantara telah dikelilingi oleh pangkalan militer asing, upaya pelanggaran kedaulatan, campur tangan asing dan gesekan panas dilaut China selatan yang memompa perlombaan senjata dikawasan. Secara militer, ancaman ini telah ditanggapi dengan serius oleh TNI dengan terus memodernisasi kekuatan perangnya melalui Minimum Essential Forces, peningkatan profesionalitas prajurit, Alih teknologi senjata strategis dan perubahan doktrin pertempuran dari pasif menjadi aktif (Pre Emptive Strike).

Apa yang dilakukan TNI kini adalah jaminan bahwa serangan militer konvensional masih dapat kita antisipasi dengan jelas, nah serangan nir militer lah yang harus segera siapkan total karena bentuk musuh bisa sangat abu-abu, intangible dan kadang berasal dari bangsa sendiri yang memilih menjadi komprador asing. Untuk model non militer ,peran tak lagi dimonopoli militer tetapi seluruh kompenen bangsa, Lembaga Intelejen, Pengusaha, Akademisi, Partai Politik, Pemerintah Daerah, Ormas, hingga individu dapat berperan nyata sebagai bagian dari sistem perang rakyat semesta new version ini.

perlu di ingat bahwa serangan non militer biasanya menyasar objek2 strategis yang berpengaruh kuat pada kemashlatan bangsa seperti sektor perekonomian, mengikis persatuan dan kesatuan rakyat, menyuntik generasi mudanya dengan budaya negatif, demoralisasi yang pada umum nya bermuara pada penguasaan Sumber Daya Alam Nusantara yang terkenal luar biasa banyaknya.

Last, Perang Rakyat Semesta new version bisa diwujudkan dengan persiapan sejak dini melalui peningkatan SDM handal, penguatan moral, pemfilteran budaya asing, Kepemimpinan nasional dan daerah yang kuat, penegakan hukum yang adil, kebijakan yang pro rakyat ,jaminan kesehatan yang kesemuanya berujung pada kemakmuran rakyat. Dengan rakyat yang makmur maka rakyat dapat membekali semua hal yang dibutuhkan baik untuk diri sendiri ataupun negara sehingga kelak akan sangat berguna dalam menghadapi bentuk serangan asing dalam berbagai wujud.

 Pic by wallpaperswa.com

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *