Pengalaman Pertama menjadi Fotografer Pernikahan

Kasamago.com – – Bidang Fotografi adalah salah satu dari sekian hobi baru yang saya nikmati , geluti dan tetap bertahan dibanding hobi baru lainnya yang sebatas “pengin tahu aja”. Dengan segala keterbatasan termasuk kamera SLR yang sudah tidak dimiliki lagi, Hobi Jeprat Jepret tetap saya salurkan dengan alat protet manapun yang bisa dipakai.

Intro

Nah disuatu waktu, salah satu Atasan saya mendekati dan menawarkan sebuah proyek berbayar yang berjudul : “Minta Tolong motoin acara pernikahan Adik Bungsu nya”. Karena terbaru nuansa militer, tentu reflek saya menjawab “Siap Ndan !”.

Berdasar judul proyek tadi, dengan kata lain saya disewa sebagai “Wedding Photografer”, suatu hal yang sebenarnya pengin saya dapatkan tetapi juga belum siap saya lakukan. Wes berhubung terlanjur mengiyakan, dengan kepala nyut nyutan dan pikiran bundet kemana-kemana, saya terpaksa menghadap atasan lagi dengan maksud menolak.

“Ndan, ndak punya kamera bagus !, alat gak lengkap !, kualitas jelas kalah dari fotografer pernikahan beneran !”

Lalu Apa jawaban atasan saya.. ??

“Uwis gapapa, moto biasa saja, dokumentasi biasa saja”.  “Kalau gak punya kamera, pinjam SLR kantor, nanti saya yang minta ijin”

“Oh begitu ndan, jadi saya moto dokumentasi biasa ya, ga perlu bagus ala fotografer nikahan, coz beda mental dan peralatannya?”

“Iya kayak gitu aj, yang penting ada dokumentasi fotonya..”

“Oke, Siap ndan. Terimakasih”

“Siip, udah tau lokasinya kan??”

“Sudah ndan, aman”

Persiapan

Sehari sebelum hari H, sore harinya saya sengaja mengunjungi lokasi pernikahan adik Atasan saya. Ternyata dekat dari rumah dan lokasinya di pinggir jalan besar, gampang dicari. Malamnya, saya mulai mecharge full baterai kamera Nikon D3200 milik Kantor, membersihkan Body, lensa, dan menyiagakan kamera cadangan, yakni satu satunya kamera yang saya miliki, Kamera Prosumer dari Fujifilm.

Berdasarkan literasi dan buku panduan dalam mendokumentasikan sebuah event khususnya acara pernikahan, ada 4 point yang sekiranya adalah point utama yang wajib diperhatikan para fotografer dan sudah menjadi hal yang umum, yakni :

  • Pencahayaan
  • Area / Ruangan
  • Angle
  • Momen

4 Point diatas itulah yang menjadi dasar dan pedoman saya dalam mengambil gambar nanti.

Eksekusi

Sesuai jadwal, saya datang lebih awal dari jam yang diminta, pukul 08.00 pagi. Lokasi yang dijadikan tempat pernikahan adalah rumah mertua atasan saya. Begitu datang, saya langsung dijamu dan disambut keluarga mertua atasan saya. Langsung saya minta ijin ke mereka, bahwa saya bukan fotografer pernikahan, saya hanya ditugaskan mendokumentasikan biasa karena alat yang ada sangat tidak menunjang. Jawaban mereka melegakan saya, karena memang yang diminta hanya foto-foto dokumentasi biasa.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya acara pernikahan dimulai pada pukul 10.00, diawali dari seserahan hingga ijab qobul. Rasa canggung dan degdegan hilang sudah ketika saya menikmati menekan shutter dan memindai objek dibalik jendela bidik. Semangat dan antusias dalam mendokumentasikan acara sakral ini begitu menggelora,

well.. saya sangat enjoy dan asyik. Muantabb.. tapi entah dengan hasil fotonya, sudah layak atau belum menurut pandangan pihak pengantin. Ini yang bikin was was nantinya, kalau jelek duh mau ditaruh dimana ini muka.

Saat jarum jam digital menunjuk angka 14.00 WIB, saya memutuskan untuk pamitan pada keluarga dan pasangan pengantin. Rasa puas, lega dan senyum terpancar dari wajah saya, meski didalam hati tetap terselimut rasa was was jika hasil foto tak sesuai harapan.

Last, dari target 2000 an foto yang dijeprat, ternyata saya hanya mampu mencapai 500 an saja. Walhasil kamera cadangan tak terpakai.. tenang rasanya. Pengalaman yang sangat berharga bagi diri saya.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *