Perang Panas Dingin, Menyambut Wajah Baru Dunia?

Perang
Laut China Selatan – Al Jazeera

Kasamago.com – – Marhaban Ya Ramadhan, Bulan suci 1441H bagi Umat Islam telah berjalan di tengah tha’un (wabah) Corona / Covid-19 / Sars –Ncov2 .Ujian menahan diri dari segala Nafsu Lahir Batin kini bertumpuk dengan dua ujian kesabaran sekaligus, Bersabar menghadapi Virus dan Buruknya Kepemimpinan atas Republik Indonesia.

Menjadi pertanyaan penuh kekhawatiran.. Apakah Indonesia sanggup dan siap menyambut Wajah Baru Dunia dalam Perang Dunia ke 3 kali ini, Perang Panas Dingin?? Always, Time Will Tell.

Perang Panas Dingin

Kenapa disebut Perang Panas Dingin?? Inilah istilah yang saya kutip dari perbincaaan Budayawan Babe Ridwan Saidi dalam channel youtube Macan Idealis. Peradaban Modern manusia sejak abad 20, telah melewati tiga konflik berskala global, Perang Dunia I (1911 – 1914), Perang Dunia II (1941 – 1945).

Dua Perang Dunia ini disebut Perang Panas (melibatkan Senjata Fisik), kemudian Perang Dingin (1960 – 1991), Perang Adu Otot antara dua negara adidaya, Amerika dan Soviet yang menimbulkan impact dan gejolak bagi negara negara di dunia.

Memasuki Era Digital, Konflik yang melanda kawasan Timur Tengah terus membara sejak berdirinya Negara Israel, Perang Teluk, hingga Arab Springs saat ini. Masyarakat dunia meraba.. Kapan Perang Dunia Ketiga terjadi? Seolah sudah memaklumi, Perang menjadi bagian dari Peradaban Manusia kapan pun zaman nya.

Merebaknya Virus Corona dari Wuhan China (Corona Outbreak) yang diduga kuat adalah senjata biologis,  menjalar ke seluruh dunia. Merubah total wajah masyarakat dunia dan memicu resesi ekonomi global. Inilah mungkin Perang Dunia ketiga itu, Perang Panas Dingin, Perang Asimetris yang menggabungkan Senjata Biologi, Ekonomi dan Cyber.

Banyak pakar melihat, Perang Panas Dingin adalah pertanda Kejatuhan Sistem Kapitalisme, Fiat money (kertas) akan segera digantikan total oleh Uang Digital dengan China yang telah siap sebagai Leading Executor nya. Amerika sendiri tak mau ketinggalan mengeluarkan Uang Digital dengan menyiapkan Libra (facebook) dan Barco (IMF).

Quo Vadis Indonesia

Kabar mengejutkan datang dari Korea Utara, Pemimpin Kim Jong Un dikabarkan sakit dan 40 Negara mengajukan gugatan ke China sebagai pihak yang bertanggung jawab atas merebaknya Covid-19, serta Militer China mempercepat Pembangunan Kapal Induk terbarunya. Armada Laut Amerika dan Australia pun bertandang ke laut China Selatan, entah ada kaitan nya atau tidak. Dalam Pergerakan Militer, terkandung strategi politis di dalam nya.

Di Indonesia sendiri, rakyatnya telah menikmati realita dari perkataan legendaris mantan Wakil Presiden RI, “Jika Jokowi menjadi Presiden, Hancur Indonesia”. Kualitas suatu kepemimpinan akan diuji ketika bencana melanda.. dan inilah ujian nya.

Disaat negara lain sibuk menyiapkan kekuatan agar selamat dari pulih pasca Covid-19, Bangsa Indonesia justru diributkan oleh hal konyol mencari perbedaan Mudik (Mulih Udik = Pulang Kampung, sungguh kemunduran peradaban yang begitu bengis.

Arah laju Politik Indonesia menurut Prof Rizal Ramli sedang tunduk ke China,di tambah rentenan “Pengkhianatan” Rezim pada bangsa Indonesia melalui Hutang, Korupsi Raksasa, hingga Omnibus Law maka fiksi imajinasi Indonesia Bubar 2030, atau Indonesia mutlak dijajah China 2025 bukanlah candaan  tetapi ancaman. Posisi Indonesia bagaikan Sitting Duck, maju nabrak, mundur jatuh.

Last.. Dunia sedang berevolusi, entah bermuara kepada kebaikan atau kejahatan, itulah kehidupan yang penuh misteri. Umat manusia, khususnya Bangsa Indonesia meski mengalami ujian bertubi tubi dari dalam negeri sendiri, tetaplah waspada siaga. Pertahankan akal sehat, jaga Persatuan dan ketahanan pangan.

Karena dibalik bencana di dunia, ada kelompok rahasia (Epistemic Comunity) yang merencanakan semua nya, dan sebaik baiknya pembuat rencana hanyalah Allah SWT. Semoga Bangsa Indonesia segera mendapat Kepemimpinan yang Amanah sebagai Juru Penyelamat Negeri. Amiin

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *