Polemik aturan Zonasi, antara Keadilan dan Prestasi

sinchan

Kasamago.com – – Sejak era Reformasi, kurikulum baru selalu berubah, dunia pendidikan menjadi kelinci percobaan. Ganti Menteri, ganti kurikulum.. begitu Tagline nya.

PPDB dan Kegelisahan Swasta

Kini kurikulum baru tidak lagi sebagai biang kehebohan, melainkan sistem PPDB (Peserta Penerimaan Peserta Didik Baru) online yang mulai menerapkan aturan Zonasi dan Radius secara Serius.

Sebelum ada aturan zonasi/radius PPDB, ketika heboh RSBI menimbulkan banyak korban, Ibu saya yang seorang pendidik di Sekolah Swasta Semi Favorit pernah curhat: “Bro.. sekarang sekolah swasta makin susah, ga dapat murid banyak, jadi wadah sisa. Sekolah negeri makin rakus merekrut siswa, terutama yang pinter, yang bodoh kesingkir ke swasta. Sampai kapanpun, Swasta ga mampu menyaingi negeri”.

Itulah Citation Ibu saya sekian tahun silam, dan akhirnya gaung kegelisahan Swasta terdengar Pemerintah. RSBI, dibubarkan.. Sistem PPDB Online diterapkan dan Aturan Zonasi diberlakukan.

Zonasi

Saya baca di surat kabar lokal, aturan Zonasi ini menuai Polemik di kalangan Orangtua murid, ada yang pro dan con. Sebagai tahap awal mencari bahan artikel, saya meminta saran pada Komandan saya yang sudah matang menyikapi peristiwa duniawi yakni Kapten Supriyanto alias ndan Pipi.

“Ndan, tentang aturan Zonasi, Pro atau Kontra?”, Jawaban nya condong ke menolak. Alasan nya bagi calon siswa berprestasi tentu akan memilih sekolah paling Favorit dan sekolah Favorit jumlah nya terbatas, tidak ada di setiap Kecamatan. Bagi yang tinggal di luar kota atau pinggiran kota, aturan Zonasi menyulitkan mereka. Syukur kalau di Zonasi nya ada sekolah Favorit, kalau tidak !?.

Saya pun membalas, “lah Ndan ya kasian Sekolah nya, ga ada pemerataan siswa cerdas”. Jawaban Ndan Pipi ternyata sangat Visioner, “Nah.. itu dia. Saya baru setuju kalau sarana, prasarana dan SDM sekolah Favorit merata di setiap wilayah, jadi tidak ada sekolah Favorit karena semua menjadi favorit”.

“Wah bener itu ndan.. tapi itu sulit atau mustahil di realisasikan karena butuh waktu, biaya, proses dan konsistensi. Saya mudeng ndan, bikin aturan itu cara termudah dan terenak dilakukan saat ini ketimbang mengupayakan pemerataan kualitas sekolah”.

“Josss.. itu dia”, Plok.. !! Suara tangan saya dan Ndan pipi saling bergerak seperti telah menyarangkan bola ke gawang.

Baca juga : Tempat Rekreasi di pinggiran Purwokerto

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *