Rusia vs Amerika, China vs Amerika

Kasamago.com – – Dalam keriuhan berbagai gejolak di dunia baik di sektor ekonomi, energi, politik , Sinetron dan seterusnya, ada peristiwa besar yang hampir atau bahkan sengaja luput dari pemberitaan mendetail media-media mainstream baik nasional maupun asing, sulit ada yang serius membahas bahwa diluar sana Perang Dashyat telah berlangsung dalam selubung cantik pertempuran modern yang kita kenal sebagai Pertempuran Asimetris, Perang Proxy atau Perang Hybrida.

Rusia vs Amerika

Perang dashyat pertama berlokasi di Suriah, Negara yang sudah sekian tahun diruntung goncangan konflik, runtuh porak poranda akibat konflik berkepanjangan, terpicu oleh isu demonstrasi massal menggulingkan pemerintah, pemberontakan hingga perang asyimetris yang melibatkan negara adidaya. Namun hebatnya dan ajaibnya, Presiden Syria, Bashar al Assad yang masih didukung oleh sebagian besar Rakyatnya tetap berjuang sekuat tenaga memimpin rakyat Suriah agar segera lepas dari konflik.

Sayang lawan tempurnya ternyata di sokong penuh oleh salah satu negara terkuat di bumi sehingga mau tidak mau, agar sekutunya tak jatuh ke tangan tak beradab, Federasi Rusia sebagai Sekutu Suriah hadir secara tak langsung dan clandenstine menyokong kekuatan militer Suriah dengan menggelontorkan Persenjataan terbaiknya, salah satunya Rudal Anti Serangan Udara jarak menengah, S-300 beberapa waktu silam berhasil merontokan jet tempur Israel yang memasuki wilayah udara Suriah. Aksi sokong menyokong antara Amerika dan Rusia ini secara perlahan terungkap ke publik sehingga dapat diartikan pula bahwa diantara keduangnya tengah terlibat perang sesungguhnya meski tidak secara langsung (Perang Proxy, menggunakan tangan orang lain).

Baik Amerika maupun Rusia berkoar di hadapan khalayak dunia bahwa mereka akan bertekad mengerahkan kekuatan militer untuk menggempur ISIS, tetapi di lapangan keduanya bertolak belakang berbeda peran, di atas kertas mereka adalah partner protagonis, kenyataannya keduanya adalah kawan dan lawan, Amerika berperan sebagai antagonis karena bukannya menghancurkan ISIS, serangan militernya di Suriah justru tidak menargetkan ISIS, disisi lain ISIS semakin berkibar dilapangan dengan aneka kiriman Senjata, dari siapa lagi..  Disisi sebrangnya, Rusia berperan sebagai Protagonis membela Suriah, dukungan Presiden Rusia Vladimir Putin begitu serius dan super menggetarkan, dari pemberitaan sejumlah media, Rusia mengirim jet tempur teranyar nya, Sukhoi SU-34 Fullback, Drone, Panser APC BTR-82a, Alat Komunikasi, Senjata, Amunisi  dan Pasukan Pelatih.

Dukungan komplit nan Serius dari Rusia akhirnya memancing negara-negara yang awalnya menginginkan Presiden Assad terguling perlahan mulai mengubah setirnya untuk mendukung Pemerintahan Sah Suriah. Kabar menyegarkan ini pun ditambah dengan lebih terkonsentrasinya kekuatan Amerika untuk berlaga di kancang Pasifik sehingga dapat diramalkan bila tak ada hambatan terbaru menanti, jangkar kemenangan akan menancap di kubu Suriah dan Rusia meski harus dilalui dengan perjuangan berdarah darah hingga tetes terakhir mengingat ISIS dan kelompok radikal lainnya tak akan dengan mudah pergi atau menyerah begitu saja selama bantuan negara penyokong tak dihentikan.

China vs Amerika

Memanasnya hubungan China dan Amerika lebih banyak disebabkan oleh aksi ekspansif dan nakal dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok dengan mengklaim wilayah perairan di sekitar perbatasan dengan tetangga tetangganya, ulahnya sontak membuat para tetangga yang lahan nya kena klaim beringsut, kaget, marah dan membuat surat cinta kepada si penguasa samudera agar berkenan turun tangan menghentikan aksi militer China, tepatnya di laut Selatan. Amerika sebagai sang penguasa merasa dominasinya mulai terancam, apalagi negara sekutu dekatnya masuk dalam daftar para tetangga yang kena ulah China. Aura gesekan antara China dan Amerika pun kian kental dan terasa, puncaknya adalah penerapan Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) oleh China yang juga mencakup wilayah sengketa.

Dan faktor pemanas terbaru adalah perang ekonomi antara Dolar vs Yuan, ketika dolar menunjukan penguatan secara konsisten di seluruh dunia, Yuan ikut terkerek naik, kenaikan Yuan membuat kunci kemajuan ekonomi China terancam yakni produk-produk Ekspornya menjadi tidak murah lagi, padahal dunia paham bahwa keunggulan produk China adalah harganya yang murah. Tanpa menunda lagi, Bank Central China (People’s Bank of China) segera menDevaluasi mata uang Yuan, imbasnya Dolar semakin meroket naik dan produk dengan mata uang Dolar akan dilindas oleh banjir bandang produk murah buatan China. Tak lama dari aksi Devaluasi Yuan, terjadi ledakan hebat di pelabuhan Tianjin, China Agustus lalu, menewaskan ratusan orang, menghanguskan ribuan mobil mewah, rumah dan meninggalkan jejak lubang bekas ledakan segede gaban. Melihat dashyatnya ledakan yang mirip seperti ledakan nuklir, banyak pihak meyakini, insiden Tianjin bukanlah kecelakaan murni, melainkan sebuah serangan militer.

Kecurigaan ini menguat ketika mulai marak informasi bila Ledakan Tianjin akibat serangan senjata luar angkasa Amerika, Rod of God, Senjata Pemusnah Massal (WMD) milik Irak Amerika terbaru, dari informasi yang ada Rod of God adalah tombak yang dijatuhkan dari luar angkasa, gaya kinetik plus sokongan gravitasinya memungkinkan nya memiliki daya hancur ala bom nuklir, analogi lain, Rod of God dapat dimiripkan dengan efek jatuhnya Meteor berukuran besar. Bisa jadi, dalam interpretasi lain, Insiden ledakan Tianjin dengan bantuan senjata canggih Amerika adalah sebuah pesan kuat dari Amerika akibat aksi China mendeveluasi mata uangnya, hal ini dapat didukung dengan adanya indikasi dari militer China untuk merahasiakan upaya investigasi dari publik.

Namun China yang kini bermetamorfosa menjadi negara tangguh secara militer mungkin tak terima begita saja salah satu wilayahnya dihancurkan, selang kemudian terjadi ledakan dashyat di pangkalan militer amerika di Kanagawa, Jepang ,apakah ini kecelakaan atau balasan China? entahlah..  Aksi China selanjutnya adalah pengumuman pembelian pesawat siluman dalam partai besar ke Rusia , Aksi sejumlah kapal perang China memasuki wilayah perbatasan ALaska untuk pertama kalinya dan yang paling terbaru adalah di pamerkannya Alutsista terkuat China saat Parade perayaan kemenangan ke 70 dalam Perang Dunia ke 2 di Beijing. Dalam Parade, China menampilkan tabung tabung raksasa yang sangguh menggerogoti daratan AS dan icon kedigdayaan militer AMerika, Kapal Induk. Senjata ini adalah varian misil antar benua berinti Nuklir dan misil anti kapal induk, Dong Feng, antara lain DF-21d yang sanggup menenggelamkan kapal induk dalam satu kali tabok, DF-26,DF-5B dan DF-31A dan DF-41, dimana ukuran nya bikin bulu mata ber goyang, mirip tiang pancang Burj Khalifa Dubai.

Well, Perang Dunia ketiga sebenarnya tengah terjadi dihadapan kita dalam bentuk yang lain, berbeda dengan perang konvensional ala Perang Dunia 1 dan 2, untungnya para pihak yang  bertikai masih cukup waras dan sadar bila mereka bertarung langsung secara fisik, nasib bumi dan para penghuni nya berada dalam ujung kiamat ,berada dalam masa apocalypse. Dunia membutuhkan sosok Avatar atau apapun itu yang dapat menjinakan atau mencegah terjadi perang dashyat yang berpotensi menghancurkan seisi planet. Pemicu perang kini lebih disebakan faktor Politik, ekonomi, ketersediaan pangan dan energi, dan adapula yang dibungkus ideologi seperti yang tercermin pada konflik Suriah, dimana tujuan utama dari penggulingan Pemerintah Suriah adalah mengepung total Iran, satu satunya kekuatan di Timur Tengah yang menjadi ancaman dominasi Barat. Dan Para Avatar itu adalah Negara-negara yang memiliki kekuatan namun tidak memihak para pihak yang bertikai, salah satunya adalah negara tercinta Republik Indonesia.

Pic by mbasic.facebook.com

Comments

comments

5 Comments
    • kasamago
    • kasamago

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *