Sentuhan pertama bersama Ban IRC NR72

Ban IRC NR72

Is Time to Function not Fashion. Keep Stay on Standart..

Intro

Alkisah pada 2016 lalu, kuda besi kesayangan saya, Auto Vajin (FZ150-2009) bertugas ke kota Secang Magelang bersama calon Istri. Dalam perjalanan, ban belakang bocor dan harus ganti ban dalam. Pulangnya, Ban belakang kekurangan angin dan saat itu tukang pompa nya menyarankan segera ganti Ban karena sudah tidak layak pakai.

Setelah kembali ke rumah, saya segera mengganti ban belakang Zeneos yang aus. Karena belum ada budget untuk membeli ban baru, akhirnya memakai ban bawaan pabrikan merk Dunlop yang tersimpan lama (disimpan sejak 3 bulan dari tanggal pembelian Auto Vajin, karena saya ganti Ban Bawaan dengan Ban corsa).

Artinya, lama penyimpanan ban bawaan tersebut adalah hampir 10 tahun ! (2009 – 2016). Meski di bungkus kertas dan di kit pengkilap ban agar senantiasa terlihat baru, Ketika digunakan untuk mengganti Zeneos yang aus, tetap saja saya ragu akan daya tahannya karena sudah puluhan tahun tersimpan, rawan getas.

The Moment

Benar saja, pada awal maret 2017 saya mendapati ban Dunlop bawaan pabrik sudah retak di sekujur tubuh. Paling parah ketika di tunggangi, ban jadi gembes karena retakan panjang di dinding ban bak patahan San Andreas.

Sambil menanti hari libur untuk mengganti ban, selama 1 mingguan saya tetap memakai ban yang hampir meledak ini dengan rasa was was. Demi menghindari hal yang tak di inginkan, saya jarang memakai Auto Vajin.

Weekend, kesempatan membeli ban baru tiba. Kali ini, ban yang akan dibeli ini wajib mengutamakan fungsionalitas dan harga, bukan gaya. Setelah bertapa via Paman Google, Pilihan jatuh pada IRC NR82 TubeType 90/90 17 sesuai standar pabrikan.

The Tragedy

Ketika dalam perjalanan menuju gerai ATM untuk mengambil uang. Tak ada petir tak ada angin, sesaat setelah belok kanan dari suatu perempatan, persis didepan saya ada sepasang cewek SMA berkendara Vario. Tak diduga didepannya ada seorang pemulung yang tengah menyebrang tepat persis dijalur lintasan. Saya kira si pengendara Vario tersebut akan dengan mudah menghindarinya karena si pemulung memilih berhenti.

Dugaan Saya meleset, Si pengendara Vario menyerempet karung si pemulung dan sepertinya kaget/panik bukan kepalang. Motor langsung terpelanting dashyat menghempaskan dua pengendaranya.

Saya pun reflek membanting arah menghindari pengendara Vario yang terjatuh. Jarak Saya dengan si pengendara Vario sekitar 4 meteran ketika Crash terjadi.

Saya langsung menepikan kendaraan didepan pintu sebuah Hotel, 5 meter dari lokasi kecelakaan terjadi dan langsung bergegas mengecek kondisi korban. Pihak security hotel langsung sigap memberikan pertolongan.

Pembonceng Vario selamat tanpa luka dan langsung dibantu berdiri. Nah si pengendaralah yang paling parah, tergeletak pingsan. Darah segar mengalir cukup banyak dari kepala bagian kiri. Meski helm masih menempel dikepala tampaknya benturan keras ke aspal membuat luka serius di kepala.

Untungnya dari arah berlawanan, ada pengemudi Avanza yang menawarkan diri mengantar korban ke rumah sakit. Lega.., dan saya pun meninggalkan TKP meneruskan tujuan. Semoga korban lekas diberikan kesembuhan secepatnya. Amin..

Tiba di Toko sparepart motor saya disodori ban IRC NR72 bukan NR82, sedikit terkejut karena saya pikir tidak ada ukuran 90/90 17 untuk tipe NR72.

Ya sudahlah ketimbang kelamaan, saya bayar saja NR72. Ketika membawanya ke bengkel semi langganan untuk mengganti ban ternyata banyak motor bebek yang memakai tipe ban serupa. NR72 sepertinya menjadi primadona bagi motor bebek.

Setengah jam berlalu, AutoVajin siap ditunggangi dengan ban belakang baru. Seketika rasa nyaman mencuat, ban baru membuat berkendara lebih bersemangat. NR72 tak sia-sia saya pinang.

Comments

comments

5 Comments
    • kasamago

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *