Sikorsky S-58T Twinpack, Helikopter legendaris dalam misi SAR dan Tempur

Kasamago.com – – Bentuknya unik, mudah dikenal dan menyerupai serangga Capung, Sang Inspirator Helikopter. Dibalik sosoknya yang berkarakter, Sikorsky S-58T Twinpack menyimpan segudang prestasi yang membuat menyandang gelar legendaris.

Mengenal S-58T Twin Pack

Memiliki nama lain Sikorsky H-34, diperkenalkan pertama kali pada tahun 1954. Helikopter Serba guna bermesin piston ini awalnya dirancang sebagai heli anti kapal selam (ASW) US Navy.

Namun S-58T juga laris digunakan  sebagai helikopter Transport , Search and rescue (SAR) dan angkut VIP. S-58T memulai debutnya dibanyak pertempuran di luar Amerika Serikat, salah satunya Perang Vietnam yang melambungkan sosok S-58T dipanggung militer dunia. Banyak negara sekutu Amerika serikat yang memakai Sikorsky S-58T, salah satunya Indonesia.

Melalui Program DLG (Defense Liason Group) Indonesia menerima Hibah Helikopter S-58T TwinPac pada tahun 1975 sebagai kekuatan Skuadron Udara 6 Lanud Atang Sanjaya Bogor.

Helikopter S-58T Twin Pack kemudian banyak berjasa bagi operasi militer dan non militer negeri ini, diantarnya Operasi militer di Papua, Timor TImur, Aceh, Operasi SAR, Operasi kemanusiaan dan pendukung olahraga dirgantara.

Misi SAR dan Tempur

Helikopter ini lantas menjadi helikopter andalan dan tulang punggun dalam operasi SAR udara, serta misi tempur. Saking seringnya bertugas di lapangan dengan hasil cukup gemilang, membuat S-58T Twin Pack menyandang gelar Helikopter legendaris.

Bahkan saking handalnya, konon helikopter yang dijuluki Codot karena memiliki hidung mirip kelelawar ini saat akan digunakan tidak perlu memanaskan mesin, bisa langsung terbang !

Akhir Hayat

Masa Operasional Si Codot terbang TNI AU tercatat dari 1975 – 2010, karena usia yang sudah cukup sepuh, plus banyaknya kecelakaan yang terjadi, S-58T akhirnya kena Grounded dan tugasnya digantikan NAS-332 Super Puma buatan PT DI.

Last, Kini sosok raga Sikorsky S-58T dapat di lihat di museum Dirgantara Mandala Lanud Adi Sucipto Yogyakarta.

Comments

comments

2 Comments
    • kasamago

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *