Sultan Hamid II, seharusnya menjadi Presiden Pertama RI ?

Sultan Hamid II
Sultan Hamid II – Detik News

Kasamago.com – – Takdir dan perjalanan sejarah bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia mengantarkan ir.Soekarno (Bung Karno) sebagai Presiden pertama RI. Diantara banyaknya para tokoh bangsa yang memperjuangkan berdirinya Republik Indonesia (Founding Fathers), Bung Karno lah yang lebih populer, disenangi banyak pihak karena karakternya yang kompromis, mudah diajak berunding.

Tetapi, realita sejarah tak sebegitu datar, Sejatinya diluar sana, banyak tokoh bangsa yang lebih besar pengorbanan dan lebih patriotis perjuangannya melawan penjajahan sekaligus menyatukan wilayah nusantara dalam bingkai kesatuan.

Agus Salim, Sutan Syahrir, M Natsir, M Hatta, M Room, Syariffudin P, Tan Malaka? Bukan !! Namanya masih cukup asing dalam sejarah kemerdekaan nasional, bahkan sosoknya sendiri sampe sekarang belum diakui sebagai Pahlawan Nasional, dan gilanya ada yang menganggap beliau Pengkhianat di masa kini. Siapa dia, Dialah Sang Putra Mahkota Kesultanan Pontianak Kalimantan Barat, Sultan Hamid II.

Mengenal Sultan Hamid II

Sejarah nasional cukup mengekspose nya sebagai tokoh yang menyumbang desain Lambang Garuda Pancasila. Padahal timeline Sejarah berkata lain, sumbangsihnya sangat besar dan menentukan masa depan Republik Indonesia.

Sultan Hamid II lah, pelopor Berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS), dimana banyak wilayah yang masih berdaulat sebagai kerajaan, sedangkan Republik Indonesia sendiri menjadi bagian dari RIS.

Kenapa harus ada RIS? RIS adalah jembatan yang menyatukan wilayah kerajaan di berbagai daerah sehingga nantinya mudah mendapatkan legitimasi dari Kerajaan Belanda dalam sidang Konferensi Meja Bundar 1949.

Sultan Hamid II mengenyam pendidikan militer Belanda, lulus pada 1942 lalu berkarir di bidang Intelejen Kerajaan Belanda. Di masa Penjajahan Jepang, Sultan Hamid II mengadakan perlawanan (Pemberontakan) di Pontianak melawan Jepang. Beliau lalu dijadikan Tahanan Politik oleh Jepang hingga Proklamasi Kemerdekaan RI Berkumandang.

Membidani RIS

Ketika Kerajaan Belanda kembali ke Nusantara, Sultan Hamid II berpangkat Kolonel serta bertugas sebagai Ajudan khusus Ratu Belanda. Namun pelantikan ini tak pernah terlaksana karena Sultan Hamid lebih fokus berkiprah di Nusantara ketimbang berada di Belanda.

Di tahun 1946, Kerajaan Belanda menaikan pangkat Sultan Hamid II menjadi Mayor Jenderal, tetapi lagi lagi Sultan Hamid II berpihak kepada Indonesia. Selanjutnya, Sultan Hamid II memainkan peran penting bersama M Natsir membujuk Kerajaan-kerajaan di tanah air mendukung berdirinya Republik Indonesia.

Usaha Sultan Hamid berhasil, Semua wilayah mendukung namun dengan syarat sistem pemerintahan harus terDesentralisasi berbentuk Federal. tetapi kemudian ditunggangi Perwakilan Belanda, Hubertus Van Mook yang tetap ingin menjadikan Ratu Wilhemina sebagai penguasa induk.

Semua negara bagian bersatu menolak rencana Van Mook, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), Majelis Musyawarah Federal dibentuk dengan Sultan Hamid II sebagai ketua nya. Republik Indonesia Serikat yang bersistem federal pun terbentuk, dengan bersatunya semua wilayah ke wadah Republik, membuat Belanda mau tidak mau harus mengakui kedaulatan Indonesia.

Akhir Sultan Hamid II

Di dekade 50an, saat Bung Karno resmi dilantik sebagai Presiden seutuhnya, arah angin berubah. Sultan Hamid dianggap kuda hitam dalam kepemimpinan nasional dimata Bung Karno, Ia kemudian dijadikan Tahanan Politik hingga Sahabatnya ,Moh Hatta memberikan Grasi pembebasan nya sesaat sebelum Hatta berpisah dengan Soekarno pada 1956.

Kekuasaan itu memabukan, Power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely. Bung Karno semakin menjauh dari kekuatan Islam dan Amerika (Barat), dua kekuatan yang berjasa menopang Republik. Berkawat erat dengan Soviet, dan Komunis China, menjadikan Bung Karno bertentangan dengan para koleganya, sesama Founding Fathers yang masih Idealis, Konsisten dan berprinsip.

Kekuatan Islam di pangkas, para tokoh bangsa dipenjarakan, termasuk Sultan Hamid II hingga beliau dibebaskan pada 1966 saat kekuasaan Bung Karno rontok akibat G30S 1965.

Terlepas dari berbagai kelemahannya, seperti dekat dengan Belanda dan APRA nya Westerling, Sultan Hamid II tetaplah tokoh pejuang dan Founding Fathers, peletak dasar terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.

Ref. Budayawan Ridwan Saidi

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *