Tan Malaka, The Lost Founding Father

Tan Malaka
Tan Malaka – pic Kabarnesia

Kasamago.com — Andai sekaya Jack Ma, saya sudah tentu memperkerjakan Steven Spielberg atau James Cameron untuk menggarap film biopik tentang Tan Malaka, Sang Bapak Republik sekaligus Revolusi Indonesia.

Tan Malaka, Sosok Paradoks

Sejak Era Reformasi nan Bablas sekarang ini, mulailah bertebaran buku buku dan artikel online yang membahas sosok Ibrahim Datuk Tan Malaka. Orang hebat yang hingga akhir hayat nya gagal menikmati kenyamanan dan kemewahan duniawi.

Sejak itulah, referensi sejarah berubah drastis, Tan Malaka yang di era Orde Baru dan awal Millenium Hampir pasti luput dari buku buku sejarah kini bagaikan nyanyian merdu yang memikat perhatian publik, termasuk saya. Perlahan seiring meningkat nya khasanah literatur sejarah bangsa, saya akhir nya mengagumi sosok Tan Malaka, maha karya termashyur nya, buku berjudul MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika) sukses bikin saya menahan irama nafas.

Di zaman perang, penjajahan, dan penderitaan masa itu, masih ada manusia yang mampu berkarya sebegitu dahsyat melintasi ruang dan waktu. Ya.. Tan Malaka adalah sosok Ajaib, fenomenal sekaligus paradoks. Seharusnya nya nama nya tercatat harum dalam sejarah tokoh pemikir dunia, menyaingi Aristoteles, Plato, Machievali, Friedrich Nietzsche, charles Duhigg, dan Tsun Zu. Nama nya kalah populer ketimbang sepak terjang, gagasan dan pemikiran nya.

Takdir Pejuang

Sejak lulus dari Rijks Kweekschool, Haarlem Belanda, kehidupan Tan Malaka benar benar penuh Revolusi, hingga pikiran saya beradagium sendiri bahwa Pejuang Sejati biasa berakhir Muram di dunia tapi Insyaallah Syahid di Akherat.

Dibandingkan Tan Malaka, Che Guevara bisa jadi masih kalah revolusioner, apa sebab? Tan telah melakukan perjalanan keliling dunia sejauh 89 ribu km, 2 kali lipat dari Che. Pengembaraan Tan dimulai dari Amsterdam, Rotterdam, Berlin, Moskow, Kanton, Hongkong, Manila, Shanghai, Amoy, Tiongkok, Myanmar, Malaysia, dan Singapura.

Di buru, di persekusi, ditangkap masuk keluar penjara adalah kehidupan rutin nya. Guna tetap selamat, Tan selalu menyamar dan bergerak di bawah tanah. Prinsip, komitmen dan cita cita yang kuat tanpa kompromis bisa jadi penyebab Tan kurang di sukai lawan kawan nya.

Societiet
Gedung Societiet
RRI Purwokerto
Foto : Gedung Societeit, kini Gedung RRI purwokerto. Di kota kelahiran saya inilah, Tan Malaka menggagas Konferensi Persatuan Perjuangan, yang kelak sangat mempengaruhi perjuangan di era revolusi kemerdekaan. | pic purwokerto70.blogspot.com

The Lost Founding Father

Di masa sekolah, saya mengetahui Tan sebagai salah satu Tokoh Besar Kemerdekaan Republik Indonesia yang kemudian dihabisi karena terkait Marxisme. Dah itu saja.. Peran sejarah nya benar benar di kebiri.

Di tahun 1920 an, Tan berkecimpung di dunia Komunisme, puncak nya dalam event Komunisme Internasional (Komintern) ke 4 (1922), Tan ditunjuk sebagai Wakil Indonesia. Tan bersikukuh bahwa Komunisme haruslah bekerja sama dengan Pan Islamisme, hal ini membuat Pan bermusuhan dengan Musso dan disingkirkan dari PKI.

Ya meski Tan pernah bergelut di wilayah komunisme namun Tan adalah muslim tulen, sesuai pernyataan ikonik nya.. Di hadapan Tuhan, Tan adalah Muslim.

Menjelang kejatuhan Jepang, Tan sangat berperan besar menggerakan kekuatan para pemuda untuk sepenuh nya segera memproklamamirkan Kemerdekaan sendiri tanpa harus di beri oleh Jepang.

Peran sentral Tan Malaka membuat Bung Karno membuat Testamen menjadikan Tan Malaka sebagai pengganti nya. Sayang, di tengah intrik politik dan panas nya gejolak Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka yang bersama Jenderal Sudirman menjadi salah satu dari tiga dwi tunggal Republik harus menerima perwujudan dari adagium ” Revolusi memakan anak anak nya sendiri “.

Karena dianggap pihak oposan garis keras, 21 Februari 1949, dibawah kaki Gunung wilis Kediri, Tan Malaka (52 thn) dieksekusi oleh sesama anak bangsa nya sendiri. Sungguh suatu ironi tragis bagi Tan, Hidup demi Republik tetapi malah Mati oleh Republik.

Pada 1963, Bung Karno menganugerahi Bapak penggagas Republik Indonesia ini sebagai Pahlawan Nasional.

Last, Gagasan dan Pemikiran Tan Malaka seolah melintas zaman, tetap relevan. Bagi yang sudah membaca buku Paradoks Indonesia karya Prabowo Subianto agak nya sependapat dengan saya dan quote terkenal dari Tan Malaka, Revolusi Belum Selesai !

 

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *