Tentang Gestapu 65 (G30S /PKI)

Pro Kontra terkait isu kebangkitan Komunisme (PKI) di era pasca Presiden SBY akhirnya berujung Klimaks pada insiden Pengepungan dan Kerusuhan di depan Gedung YLBHI Minggu Malam 17 September 2017 di Jakarta.

Imbas dari insiden ini pula semakin memperhangat Pro Kontra di masyarakat. Ada yang percaya Komunis telah reborn melalui banyak tanda-tanda yang bisa anda googling berita nya. Mulai dari penampakan lambang palu arit, Simposium/Seminar terkait 65, Rectovorso Uang Kertas Rupiah, dan sebagainya.

Namun disisi lain Ada yang tidak percaya dan ada yang menganggapnya Sejarah masa lalu yang tak perlu di perdebatkan.

Program diskusi populer TVone, Indonesia lawyer Club (ILC) akhirnya mengangkat peristiwa ini dengan judul “PKI, Hantu atau Nyata” yang sukses menghadirkan Kubu kiri, Netral dan Kanan. Seru dan Berimbang.

Tentang Gestapu 65 (G30S /PKI)

Ada banyak versi dan rujukan literatur yang tiada habisnya mengupas salah satu lembaran kelam Republik Indonesia dari beragam sudut pandang dan Penafsiran.

Gestapu 65 (G30S /PKI) adalah puncak es dari serangkaian persaingan ketat dan peristiwa di tahun-tahun sebelumnya antara Bung Karno, PKI dan Kubu militer. Ditambah terkena cipratan situasi dunia saat itu yang terbagi dua Poros Timur dan Barat.

Indonesia yang kurang mendapat respek dari Barat, akhirnya merapat ke Blok Timur. Kesempatan ini dimanfaatkan golongan kiri untuk tumbuh berkembang menjadi kekuatan hebat di dalam negeri dan dikawasan.

Friksi Timur vs Barat hanyalah bagian muara-nya saja, tetapi jarang dikupas bagian hulu, yakni ada upaya dari Asing Aseng yang selalu bernafsu menguasai Indonesia karena SDA dan geografisnya.

G30S /PKI adalah wujud Perang Asimetris yang tengah ditargetkan pada Indonesia, dan menjadi titik penentu siapakah yang akan mencengkram “Promised Land” Indonesia, Komunis Sosialis atau Kapitalis Liberal. Bak terjepit di antara Predator vs Alien, tidak ada yang menguntungkan.

Korban atau Pelaku ?

Gubernur Lemhanas Letjen (purn) Agus Widjojo dalam acara ILC, menyampaikan petuah yang sangat patut direnungkan semua pihak terkait polemik PKI. Cukup Solusi-able..

Kubu Kiri yang meyakini PKI adalah Korban tragedi perlu meresapi, bahwa PKI tetap ikut bertanggung jawab dan mengambil peran dalam tingkatan tertentu. Begitu juga dengan Negara yang gagal mencegah Peristiwa ini terjadi meski akhirnya dapat dipulihkan secara “heroik”.

Kedua kubu dapat dijembatani dengan upaya Islah yakni Refleksi, Evaluasi, dan Berdamai dengan diri sendiri tanpa maksud Politis demi melanjutkan cita cita bangsa, negara di masa mendatang.

Waktu dan Sejarah telah membuktikan, Ideologi import dari Liberalis, Kolonialis, Kapitalis, Komunis, Sosialis, Zionis, Radikalis semua ditolak oleh Ibu Pertiwi.

Tapi jika ada pihak internal yang memaksakan menjalankan agenda asing aseng, maka mereka itulah para pengkhianat bangsa.

Last, Negeri ini telah memiliki Ideolgi luar biasa yang digali dari nilai nilai luhur dan sejarah bangsa, yakni Pancasila dan ingatlah “Ideologi yang tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri, tidak akan bisa bertahan lama ~ Prof. Salim Said” dan Ideologi yang dapat menembus segala jaman adalah Pancasila.

Yes.. Indonesia have it

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *