Terorisme, diantara Bisnis dan Radikalisme

Terorisme

Bicara terorisme memang gak ada mati matinya,  dapat terjadi tanpa mengenal waktu dan tempat. Namun akfitifas terorisme di era modern semakin meluap sejak Amerika Serikat menerapkan apa yang disebut The War on Teror atau Global War on Teror.

Menurut KBBI, terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).

Di awal milenial, Indonesia merasakan dampak Terorisme global untuk pertama kalinya, yakni Insiden Bom Bali 1 dan 2. Sejak itulah, geliat terorisme terus menghantui kehidupan bernegera Republik ini. Sesuai definisi Terorisme tadi, tujuan Terorisme guna menciptakan ketakutan di dalam masyarakat justru semakin terdekandensi.

Lihatlah publik tatkala bom sarinah menerjang ibukota dan yang terbaru bom di kampung melayu Rabu 23 Mei lalu. Masyarakat justru mendekat berbondong bondong ke TKP. Ya.. Masyarakat tidak takut, tidak gentar terhadap Terorisme. Selama ini, pemberantasan dan pencegahan terorisme hanya berkutat dipola pola itu saja. Pihak Kepolisian pun hanya sampai ditataran Pelaku, pion, tapi sangat sulit sekali mengungkap dalang dan sponsor utama aksi terorisme.

Jadilah di benak publik timbul bermacam macam dugaan. Saya menjabarnya menjadi dua jenis, Terorisme Bisnis dan Radikal :

BISNIS

Ah jangan-jangan ini upaya pengalihan isu, False Flag Operation (merancang serangan palsu demi menuduh pihak lain sebagai pelakunya), Konspirasi dan sejenisnya. Suatu serangan jadi-jadian atau operasi cipta kondisi bagi kalangan intelejen dengan maksud politis atau test the water (memberikan umpan untuk melihat reaksi/respon apa yang terjadi).

Atau bisa juga seperti film Jason Bourne, Mission Impossible, atau Alif Lam Mim. Dimana ada upaya pemimpin suatu organisasi bersenjata yang berusaha membunuh mantan anak buah nya yang dianggap berkhianat karena tersadar apa yang dilakukan organisasinya adalah kejahatan.

Jika terorisme itu Bisnis, berarti ada Demand & Supply, siapa yang membutuhkan aksi terorisme dan siapa yang menyediakan jasa terorisme. Time will Tell.. ikuti pola dan skemanya, pahami motifnya, dan kritis terhadap pemberitaan media.

RADIKALISME

Siapapun yang berjuang melawan penguasa atau pemerintahan akan dianggap teroris. Pejuang Republik ini dulu juga dianggap teroris oleh Penjajah Belanda, rakyat eropa yang berjuang membebaskan negerinya dari penjajah Nazi pun bisa dianggap Teroris oleh hitler. Hamas yang ingin membebaskan tanah palestina dari penjajahan Israel pun bisa disebut terorisme.

Labelisasi  terorisme mudah diciptakan oleh pihak penguasa / pemerintahan yang berkuasa, dengan bantuan media tentunya. Soal radikalisme, ini semua tergantung dari apa yang ingin dicapai, ada radikalisme kiri, kanan atau tengah. Contoh Pejuang IRA yang memiliki idealisme membebaskan Irlandia Utara dari Inggris raya pun dapat disebut Teroris oleh pihak Inggris.

Nah kalau terorisme berlatar radikalisme ini perlu dilihat dari beragam sudut pandang, Benar atau Salah saling membaur, terbalik balik, sulit dibedakan secara jernih.

Dalam hal Perjuangan, Terorisme dapat disebut sebagai salah satu strategi/model pertempuran gerilya karena lawan yang tak berimbang, ataupun bagian dari suatu perang asimetris demi memuluskan suatu agenda tertentu, salah satunya adalah Arab Springs, Konflik Suriah. Bisa jadi aksi teror di Indonesia adalah bagian dari Perang Asimetris terhadap bangsa ini yang dilakukan oleh Asing maupun pengkhianat bangsa.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *