Tirai yang sulit tersibak, Visi Bung Karno diantara Blok Barat dan Timur

Kasamago.com – – Belum lama ini bangsa Indonesia memperingati sebuah hari bersejarah, hari dimana lembaran tinta hitam tersemai begitu pekatnya sehingga sangat sulit untuk dilupakan dari sejarah perjalanan bangsa.

Hari itu kini disebut sebagai hari kesaktian Pancasila yang selalu di peringati dengan upacara formal setiap tanggal 01 Oktober. Tanggal ini begitu fenomenal, monumental dan historial, gemuruh badai besar yang menjungkir balikan wajah Republik saat itu, Peristiwa kelam yang memaksa jutaan rakyat baik yang berdosa, tidak berdosa maupun setengah berdosa menjadi korban, peristiwa dimana Rencana besar nan revolusioner dari Bung Karno gagal total dan peristiwa dimana Barat menyebutnya sebagai ‘hadiah terbesar’ dari Asia Tenggara.

Peristiwa besar ini bermula dari apa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September, di masa Orde Baru, peristiwa ini disebut dengan G30S/PKI atau Gestapu, sedangkan Orde Lama atau Bung Karno lebih menyebutnya sebagai Gestok atau Gerakan Satu Oktober. Mana yang lebih tepat sangat sulit untuk ditepatkan, mengingat ada beragam versi ,sudut pandang mengenai gerakan ini. Hingga kini, tirai misteri senantiasa menyelimuti fakta dan kebenaran yang sesungguhnya ,G30S tetaplah sebuah Pandora yang terkunci dan menjadi Peringatan Bersejarah bagi Negeri.

Di antara Kubu Timur dan Barat

Jauh sebelum nya sangat gamblang untuk meramalkan bahwa kelak sebuah tragedi seperti G30 akan terjadi, gonjang ganjing politik akibat perseteruan kubu Komunis (PKI), Angkatan Darat dan Kelompok Islam. Kegaduhan ini makin intens di awal decade 1960 an. Paska kesuksesan merebut kembali Irian Barat lewat Kampanye Trikora, Bung Karno mulai mencondongkan Badan nya ke Blok Timur. Berkat kebaikan Blok Timur lah yang menyebabkan BK menjauhi Barat yang sempat menolak dimintai bantuan terutama saat kampanye Trikora di gelorakan. Apalagi konon, BK telah mengendus adanya rencana Neo Kolonialisme dari Blok Barat terhadap bumi pertiwi.

Meninggalnya satu satunya partner Bung Karno dari Blok Barat, Presiden John F Kennedy yang mati di tembak oleh suatu Konspirasi tingkat tinggi semakin memalingkan BK ke Blok Timur. Dukungan dari TImur diharapkan membantu BK mewujudkan sebuah poros penyeimbang antar Blok Timur dan Blok Barat yang tengah terlibat Perang Dingin saat itu. Berawal dari Konferensi Asia Afrika, BK pun memotori berdirinya Gerakan Non Blok yang kelak dikembangkan lagi menjadi blok kekuatan baru yang disebut New Emerging Forces (NEFO).

NEFO ini lah yang digadang menjadi senjata pamungkas Bung Karno dalam mencegah upaya Neo Kolonialisme/Imperialisme kembali mendarat di nusantara dengan berbagai macam wujud nya. Kuatnya dukungan Blok Timur turut pula menyuburkan partai berideologi Komunis (PKI) yang dianggap BK sebagai tameng terbaik membendung pengaruh Kapitalisme barat di nusantara. Kuatnya PKI dengan jutaan simpatisan membuat kubu militer terutama Angkatan Darat khawatir, yang dikemudian hari memuncak menjadi perseteruan sengit diantara PKI (Komunis), Angkatan Darat (Nasionalis) dan kalangan Agama.

Perang Saudara

Panasnya tensi dunia akibat Perang Dingin turut merembet pula ke Indonesia, Konon pihak barat (dimotori oleh korporasi global yang sangat berambisi mengeruk kekayaan nusantara) memanfaatkan perseteruan PKI, Angkatan Darat dan Islam sebagai peluang menancapkan kembali taring nya di tanah air. G30S pun meletus, apapun motifnya dan siapa dalang penculikan para jenderal dan perwira Angkatan Darat oleh oknum pasukan Cakrabirawa (tak semuanya terlibat) masih simpang siur, entah Bung Karno, Mayjen Soeharto, PKI, atau bahkan pihak Asing sekalipun belum dipastikan kebenarannya. Banyak ragam versi dan konspirasi di balik nya, entah yang menyalahkan PKI, Jendral Soeharto maupun Asing, yang jelas G30S berhasil memporak porandakan Bangsa Indonesia, memecah belah, dan membuat sesama bangsa saling membunuh.

Pembangkangan Jendral Soeharto terhadap Presiden Soekarno dengan menyabotase penunjukan Panglima Angkatan Perang RI serta memanfaatkan Surat Perintah 11 Maret berhasil mendepak BK dari tahta Presiden. Di lain pihak, beberapa loyalis Bung Karno seperti Militer dari Angkatan Laut (ALRI) terutama KKO (Marinir) berniat menyatakan perang terhadap kubu Jendral Soeharto, sayang permintaan ALRI ditolak sehingga Perang Saudara dapat dihindarkan, di kubu PKI pun demikian, Perang Saudara bakal pecah bila jutaan simpatisan PKI diminat member perlawanan, untungnya AD berhasil menyiduk seluruh pimpinan PKI sehingga PKI nyaris lumpuh total kehilangan komando. Moment ini dimanfaatkan Militer untuk membasmi seluruh antek PKI, termasuk dalam lingkup internal Militer dan jajaran pemrintahan.

Runtuhnya Impian Bung Karno

Pada 1966, gelombang demonstrasi mahasiswa merebak, kekisruhan ekonomi dan Politik ini akhirnya semakin mendorong Orde lama tumbang dan digantikan Orde Baru yang kontroversial. G30S membuat semua impian Bung karno lenyap, Games of The New Emerging Forces (GANEFO) yang dalam waktu dekat akan dibuka pun turut sirna. Melalui GANEFO lah, sedianya Bung Karno bermaksud menantang dominasi Negara Maju (Old Established Force) dan mencegah RI tercebur dalam pusaran blok Amerika (barat) dan Uni Soviet (Timur). Bung Karno berharap RI membuat blok kekuatan tersendiri yang sama kuat nya dengan blok lain sehingga Indonesia menjadi “Mercusuar” bagi negara-negara ketiga.

Di tangan Orde Baru, gembok harta karun bumi pertiwi terbuka lebar, berbagai korporasi asing bak Tsunami hadir mengambil proyek perampokan harta karun nusantara, dari emas , minyak, hutan tropis, dan sumber daya alam lain yang tentu saja ditambah penduduk Indonesia sebagai pangsa pasar yang menggiurkan. Hingga kini, korporasi asing masing melenggang bebas menyedot kekayaan tanah air, terutama Freeport di Papua yang sejak 1967 hingga kini rasanya mustahil mengusir Freeport dari Tanah Papua tanpa adanya ancaman invasi Amerika ke Indonesia.

G30S adalah peristiwa kelam bersejarah yang tak boleh terlupakan, mari jadikan peristiwa ini sebagai peringatan, pertanda dan bahan pelajaran agar kejadian serupa tak terulang, membuat seluruh elemen bangsa waspada dan siaga bahwa ancaman dari pihak yang tak ingin Indonesia maju dan makmur masih tetap ada sampai sekarang. G30S juga adalah puncak dari berbagai upaya melemahkan Indonesia dan Bung Karno, membuat pemerintahaan Orde lama saat itu sangat kesulitan untuk menggerakan roda perekenomian nasional.

Last, Indonesia yang majemuk berlandaskan Pancasila sangat tak mungkin dan terlarang untuk digantikan oleh ideologi import dari manapun dan kini kita bersyukur bahwa NKRI masih tegak berdiri dalam bingkainya, dentuman bertubi tubi dari pihak asing dan para pengkhianat yang menginginkan Kekayaan agung nusantara gagal membuat negeri ini pecah dan terkoyak seperti Yogoslavia, Sudan, Afghanistan, Libya dan Suriah. Kemandirian di segala bidang, memegang teguh Budaya luhur bangsa dan tetap berkarakter nusantara berlandaskan Pancasila adalah barrier terkuat bagi Indonesia untuk tetap selamat dari jurang kehancuran.

Pic by uniqpost.com

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *