Tradisi Benci vs Budaya Mencintai dan Saran bagi Penyelenggara

Suporter
Kerusuhan – Animo Apps

Kasamago.com – – Tragedi berdarah terjadi pada laga  El Classico Persib vs Persija (Minggu, 23/09/2018), di pelataran stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Seorang pemuda meregang nyawa dengan cara amoral, biadab, bejad melebihi Piranha.

Tradisi benci ternyata masih mengakar kuat di dalam ekosistem para suporter ultra radikal.

Tradisi benci dan El Classico

Di liga Spanyol ada istilah El Classico, yakni duel legendaris antara Real Madrid vs Barcelona, maka di Indonesia ada Persija vs Persib. Fanatisme suporter kedua Kota ini melebihi eskalasi permusuhan Korea Utara vs Korea Utara, Turki vs Yunani, China vs Taiwan, sereem.

Kenapa iklim sepak bola Eropa tanpa menghilangkan unsur fanatisme supporter klub nya tetap mengikuti kaidah kemanusiaan. Itulah beda nya Negara maju dengan Negara Berkembang.

Indonesia yang mulai bergeliat jagat persepakbolaan nya sekali lagi malah terjebak dalam kesalahan yang sama.. seolah menjadi masalah laten.

Budaya Mencintai

Kekerasan seperti perkelahian, tawuran, pengkeroyokan, pembully-an, perang mulut dsb bukanlah Budaya, tapi Tradisi yang mesti di kebiri.

Budaya Mencintai itu wajib, Hidup adalah saling mencintai, tanpa cinta bagaikan Matahari didepan Bulan. Sunyi, lesu, hambar dan tidak mungkin.

Hanya Psikopat yang begitu bahagia dan bersuka cita saat membunuh manusia, serasa ada kenikmatan. Bisa jadi para pelaku mengalami gangguan psikis entah akibat tekanan hidup, trauma ato kesurupan.

Sebelum Budaya Mencintai di viruskan, stop dahulu tradisi benci yang menghalalkan kekerasan. Cara nya..? ada di Al Quran.

Saran

Berikut Kajian singkat dari Kasamago Institute, sebagai upaya partisipatif mengusulkan solusi :

  1. Perlu di bentuk suatu Divisi Keamanan dan Intelejen dari para StakeHolder (PSSI, PT LIB, Polri/TNI, Suporter) yang khusus bertugas menganalisa dan mendeteksi adanya ancaman, gangguan keamanan. Lalu memberikan rekomendasi, bagaimana suatu pertandingan di persiapkan.
  2. Dari narasumber dalam acara ILC TV One, teman korban berusaha mencari pertolongan pada aparat keamanan, namun sulit di cari dan sudah terlambat. Entah karena Aparat kewalahan, kecolongan atau kurang siap, semoga kedepan dapat dijadikan evaluasi dan bersandar pada poin 1, diperlukan adanya divisi pendeteksian dini soal keamanan. Apakah laga layak di tandingkan, berapa jumlah aparat yang tepat sesuai informasi jumlah penonton nya.
  3. Terkait tiket, di era digital saat ini seharusnya pembelian tiket lebih tertata, mudah dan jelas. Tiket dapat di pesan jauh hari sesuai kapasitas stadion. Berikan himbauan tegas bagi siapa pun yang memaksa ke stadion tanpa tiket.
  4. Terapkan aturan tegas bagi Suporter secara konsisten. Berbuat rusuh, berikan sanksi berefek jera maksimum.
  5. High Risk, High Cost, High Return. Upayakan kekuatan aparat keamanan mampu memberikan efek deterens dan intimidatif bagi suporter. Pajang MBT leopard , terbangkan Helikopter Bell AH-1Z Viper TNI AD  di langit stadion sembari menebar teror bagi para pelaku kekerasan.

Last.. Innalilahi wa Innalilahi rojiun, turut berduka cita pada korban, semoga Almarhum Chusnul Khotimah mendapat tempat di sisi NYA. dan bagi Keluarga di berikan ketabahan dan kekuatan. Aamiin ya robbal alamin. #StopKebiadaban

Comments

comments

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *