Tragedi Transportasi Air, Keberpihakan dan Triton Submarines

Kasamago.com – – Sebagai manusia yang memiliki reservoir air mata, wajar bila kedua pipi mendadak basah saat tahu dua hal, pertama foto dua Bayi manusia yang selamat setelah terombang ambing sehari semalam dilautan yang dingin !!. Kedua, berhenti nya upaya evakuasi Jenazah KM Sinar Bangun di Danah Toba.

Tragedi Transportasi Air

Gaung Poros Maritim ternyata wacana, Gelar Negara Maritim ternyata Label semata. Dalam rentang waktu yang berdekatan, dua tragedi besar terjadi diatas air. Senin, 18 Juni 2018 sekitar 17.30, KM Sinar Bangun yang membawa wisatawan dari Pelabuhan Simanindo ke Pelabuhan Tigaras tenggelam, dari 200 an penumpang, 164 meninggal, jatuh ke dasar danah sedalam 450 meter.

Tragedi ini membuat heboh, tak hanya soal KM Sinar Bangun tetapi fakta menarik bahwa Danau Toba memiliki kedalaman hingga 1600 m. TNI AL melalui Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) berencana akan meneliti lebih lengkap kondisi geografi Danau Toba.

Musibah kembali muncul pada Selasa (3/7/2018), Kapal Motor (KM) Lestari Maju tujuan Pelabuhan Bira ke Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, sandar darurat lalu tenggelam separuh di Pantai Pabadilang Selayar.

Dari daftar manifest, KM Lestari Maju membawa 139 orang penumpang dan 48 kendaraan. Upaya penyelamatan oleh penumpang berakhir dengan begitu buruk. Berita menyebut dari 139 penumpang, ada 24 orang dinyatakan meninggal.  Sementara, 74 orang berhasil selamat dan 41 orang masih dilakukan pencarian.

Dari Tragedi KM Lestari Maju, ada banyak hal yang wajib dibenahi. Prosedur penyelamatan penumpang gagal total, dan disisi penumpang pun, dipastikan banyak yang belum paham apa yang harus dilakukan jika terjadi kecelakaan diatas kapal.

Keberpihakan

Setelah 13 Hari, Upaya Penyelamatan Tim SAR atas Korban KM Sinar Bangun akhirnya dihentikan, padahal lokasi beberapa Jenazah sudah diketahui via kamera robot ROV. Penghentian ini lalu menuai pro kontra. Dari sisi Pemerintah beralasan, Evakuasi korban di kedalaman 450 meter terhambat masalah Biaya, Peralatan Canggih dan Waktu lama.

Banyak Netizen memaklumi dan mendukung Pemerintah, namun ada beberapa yang anti mainstream, kecewa terhadap keputusan pemerintah yang terlihat berpihak. Tatkala Tragedi Air Asia QZ8501, Tim SAR bekerja dengan begitu professional dan seolah tanpa mengenal waktu.

Saat itu muncul berita bahwa TNI AL memiliki Drone bawah Laut, Hugin 1000 AUV yang sanggup menyelam hingga 3000 meter. Info ini menjadi sangat kontradiktif dengan apa yang disampaikan pihak Pemerintah terkait kendala teknis.

So, pada akhirnya Rakyat lah yang menilai kinerja penyelamatan nyawa manusia di negeri tercinta, semoga kedepan tidak ada lagi tragedy serupa. Amin.

Triton Submarines

Triton
Triton Sub by tritonsubs.com

Perihal wahana untuk mencapai kedalaman ratusan meter sebenarnya teknologi manusia sudah cukup maju untuk itu. Evakuasi Kapal Selam Kursk di kedalaman 107 meter sukses dilakukan melalui kapal selam Seaway Eagle dan LR-5 di tahun 2000.

Kini, muncul Kapal Selam yang lebih canggih lagi, Triton Submarines, dimana salah satu varian nya Triton 36000/3 dirancang menyelam di tempat terdalam diplanet bumi, Mariana Trench yakni hingga 11.000 meter. Dalam jejak video promosi nya, Triton memposisikan dri sebagai produsen Kapal Selam khusus untuk keperluan wisata, penelitian dan eksplorasi.

Last, Teknologi sudah tersedia, soal biaya dan waktu semua kembali pada Political Will Pemerintah dalam menyikapi tugas melindungi dan menyelamatkan warga Negara nya.

Avignam Jagad Samagnam

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *