Uber yang keburu bubar

Kasamago.com — Beberapa hari yang lalu, terbesit dalam benak sanubari saya untuk mengisi waktu luang saat weekend dengan menjalani profesi sampingan sebagai Ojek Online atau OJol.

Sebagai sosok pemuja aliran anti mainstream sekuler radikal, tentu saya menjatuhkan pilihan pada aplikasi Ojol import dari Amrik yakni UBER.
Gojek dan Grab saya kesampingkan karena sudah terlalu mainstream.

Akhirnya sebelum mendaftar Uber saya iseng cari Apparel nya dulu dan meminta restu Istri agar lancar bin barokah, alhamdulillah istri setuju.
Eh Ah Eh.. saat asyik ngeblog pagi tadi, gak sengaja buka portal berita ternyata Grab baru saja mengakuisisi Uber.

Dengan kata lain, Uber memilih takluk dan melebur bersama Grab, aplikasi Ojol import dari Malaysia. Pengakuisisian ini membuat Grab penguasa layanan online berbasis aplikasi terbesar di Asia Tenggara.

Di dalam negeri, kompetensi Ojol menjadi lebih panas karena terjadi head2head langsung antara Grab vs pemain lokal Go Jek.
Meratapi berita ini hati kian lunglai, harapan memiliki profesi sambilan sebagai Partner Uber gagal sudah, padahal di lubuk hati yang tergelap saya punya khayalan licik yakni bakal mendapat konsumen cewek Amoi, anak SMA atau Mahasiswi untuk di antar menyelami Kota Mendoan tercinta, Duh gairah remaja jadi berkobar..

Last but lost, fenomena startup layanan online adalah kesuksesan revolusi di era digital. Kehadirannya menimbulkan polemik yang semakin mempopulerkan layanan ini. Profesi Ojek dan Supir yang dulu mungkin dipandang sebelah mata, kini menjadi profesi keren kaum kekinian.

Ekspansi berkembang pesat ke berbagai kota, termasuk Purwokerto City. Saking mewabahnya, salah satu teman saya pun nyambi menjadi OJol di kala senggang.

Kedepan, selama transportasi publik tanah air belum sekeren Benelux, maka masa depan Layanan Online tetap menggairahkan, bahkan dapat berkembang memasuki ranah yang tak terduga.

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *