AUKUS, Respon atas gagal nya Indonesia membendung Tiongkok ?

Kasamago.com – – Manuver Politik luar negeri Indonesia dirasa kian melemah karena Penguasa Negeri terlalu fokus pada persoalan domestik yang terkait dengan pengamanan kursi kekuasaan. Dampak Perang antara Kelompok di Dalam negeri sebagai dampak dari pecah belah akibat Pilkada Jakarta 2017, dan Pilpres 2019 masih menjadi benang kusut membara yang sulis diurai sekaligus di padamkan.

Energi negara terkuras oleh situasi domestik.. lalu bagaimana dengan peran Internasional nya ? khususnya di sektor Pertahanan Keamanan, Dimana Negara Adidaya kini memfokuskan kekuatan militernya di Zona Pasifik. Salah satu zona yang menjadi Hotspot adalah Laut China Selatan, atau kini dengan berani Indonesia mengganti nya dengan nama Laut Natuna Utara. Sejak China mengeluarkan Peta Nine Dash Line yang dianggap rencana mencaplok wilayah perairan banyak negara, dimulailah zona perang Laut Natuna Utara.

Pelanggaran Maritim China

Laut Natuna Utara
Laut Natuna Utara – Pikiran Rakyat

Sudah beberapa tahun ini, Aktifitas Militer dan Sipil China terus mengganggu kedaulatan laut Indonesia, penyusupan Drone bawah air, Pelanggaran Kapal Coast Guard China dsj. Coast Guard Indonesia, Bakamla (Badan Keamanan Laut) berulang kali sudah mengingatkan meningkatnya aktifitas Kapal China diwilayah Laut Natuna Utara. Yang terbaru, Destroyer China, kelas 052D Luyang III memasuki wilayah ZEE Indonesia, Ironis nya yang mengusir Kapal PLA Navy ini bukan TNI AL, melainkan Grup Kapal Induk Amerika USS Carl Vinson pada sekitar 13 september 2021 lalu. Saat itu CVN 70 Carl Vinson memepet Kapal Survei Haiyang Dizhi 10 yang di kawal Luyang III.

Pasca Kejadian ini, Menhan Prabowo dikabarkan langsung “mendatangkan” dua Fregat Inggris Tipe ArrowHead 140. Namun dapat di duga upaya menhan tidak memberikan dampak signifikan untuk membuat Armada China menghentikan manuver nakal nya. Apa alasan nya ? China terlihat sudah mampu memainkan kebijakan Politik Indonesia, salah satunya terkait Proyek Belt Road Initiative yang memberikan pintu Investasi besar besaran China. Lalu merebak nya TKA China dan aktifitas Hacker China yang merusak keamanan Cyber lembaga Negara.

AUKUS ALLIANCE

Australia
Prime Minister Scott Morrison with Joe Biden – ABC

Melemahnya Kepemimpinan Indonesia di Asia Tenggara sebagai Big Brother di kawasan akibat determinasi China, membuat Pengaruh China kian dominan di Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia, dan Kini Filipina. Indonesia sebagai Buffer Zone bagi Australia dari invasi China akhirnya menyalakan lampu darurat. Australia akan mengoperasionalkan Kapal Selam Nuklir pertama nya, sekaligus lahirnya ALiansi baru bernama AUKUS (Australia United Kingdom United States ). Aliansi tiga negara Australia Inggris dan Amerika. Di lihat dari susunan negara nya, jelas wilayah kerja utama nya tidak lain Asia Tenggara !

Di Lansir dari artikel BBC ,Auskus dapat dikatakan sebagai kerjasama militer paling signifikan sejak Perang Dunia ke II, Aliansi ini akan fokus pada kemampuan Militer , Cyber dan Intlelijen, serta secara langsung memisahkan nya dari aliansi FPDA, ANZUS dan Five Eyes yang sudah ada sebelum nya.  Gebrakan pertama AUKUS adalah menyediakan Kapal Selam Nuklir bagi Australia, berita ini jelas memanaskan Arm Race di kawasan Asia Tenggara, dan tentu saja sang Main Enemy, China. Australia kelak mencatatkan sejarah sebagai Negara Non Nuklir yang mengoperasikan Kapal Selam Nuklir. Efek gentar nya tentu berdampak ke Indonesia secara politik dan hankam.. “waduh tetangga make mainan mewah, minder nih”

Sayang nya, AUKUS membuat Perancis marah besar yang merusak hubungan Diplomatik dengan Amerika Inggris. Kesepakatan pembelian Kapal Selam Nuklir Australia buatan Perancis (Baraccuda Class) bubar, akibat ditelikung dari belakang oleh Amerika / Inggris dengan perjanjian sewa Kapal Selam Nuklir milik Amerika / Inggris kepada Australia. Perancis kehilangan proyek milyaran dolar, dan Australia harus membayar biaya kompensasi akibat meninggalkan perjanjian. Posisi Tawar dan pengaruh politik Amerika – Inggris atas Australia terlihat lebih kuat dibanding Perancis.

Last, Masih perlu waktu Bagi Australia untuk benar benar mengoperasikan Kapal Selam Nuklir nya, tergantung pula batas perjanjian sewa Kapal Selam Nuklir nya ,dan lagi meski memakai Kapal Selam Nuklir, belum tentu dibekali warhead Nuklir  submarine-launched ballistic missiles (SLBMs) macam Trident, Minuteman, Bulava atau DongFeng.

 

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *