Bagaimana Taiwan dapat bertahan hidup dari serbuan Naga China ?

Taiwan
Taiwan Army

Kasamago.com – – Mari alihkan sejenak dari hiruk pikuk Konflik Rusia vs Ukraina yang seharusnya dapat selesai dalam 1 Minggu ,namun ternyata malah molor kemana mana ga karuan. Ukraina yang harusnya takluk sekejap masih mampu memberikan perlawanan taktis yang tidak bisa dianggap sepele. Sekarang fokus pada satu lagi wilayah atau negara yang juga sama sama berada dalam kondisi “berbahaya” karena kapan saja dapat di serbu tetangganya yang lebih kuat, yakni Taiwan (Republik of China).

Bagaimana China dapat terbagi menjadi China Komunis (RRC), Hongkong ,Makau dan China Nasionalis (Taiwan/RoC) dapat di  baca di artikel ini >> Sejarah Terciptanya 4 Negara China

Sesuai informasi yang sempat ramai di media sosial bahwa China telah menyiapkan skenario Invasi ke Taiwan pada 2025, Kondisi ini jelas sudah diketahui pihak Taiwan dimana mereka terus berupaya meningkatkan Kekuatan Pertahanan dengan sumber daya terbatas yang dimiliki.

Meski Taiwan jelas mendapat perlindungan dari Amerika Serikat, namun menggantungkan harapan Pertahanan Negara pada negara lain bukanlah pilihan yang tepat, Bergantung pada diri sendiri adalah hal yang mutlak karena menyangkut Keberlangsungan masa depan negara itu sendiri.

Saya Orang Taiwan, Bukan Orang China. Tagline yang menggema di generasi milenial Taiwan bahwa pada perkembangan nya Taiwan menciptakan suatu entitas bangsa tersendiri yang lepas dari leluhurnya, Satu China.

Selama di bawah Kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China kian keras dan tegas untuk menyatukan Taiwan ke dalam Negara China bila perlu dengan kekuatan senjata. Tawaran dari China jika Taiwan bersedia bergabung adalah memberikan model sistem ala Hong Kong, satu negara , dua sistem. Tetapi Presiden Taiwan Tsai ing-Wen juga tegas menolak karena Taiwan adalah sebuah negara yang berdaulat.

Strategi Taiwan

Gerilya
Buku Pokok Pokok Gerilya – Jend AH Nasution – Sindonews

Sebagai negara “Pulau” yang terancam, Kementrian Pertahanan Taiwan merilis apa yang disebut “Quadrennial Defense Review” , Ulasan Pertahanan Empat Tahunan, Salah satu isi nya dalah Strategi Pertahanan “Resolute Defense and Multi-Domain Deterrence”. Dimana Militer Taiwan fokus membangun  Kemandirian Persenjataan Utama, dan Menciptakan Kemampuan Penyerang Jarak Jauh atau Far Strike Capabilities. Kemandirian Persenjataan ( Indigenous Weapons ) dan Kemampuan serang jarak jauh adalah jalan terwujudnya Pertahanan yang Kokoh dan Daya Gentar Berlapis (Multi Domain Deterrence / MDD).

Pada 2019, Militer Taiwan mengakuisisi 66 Jet Tempur F-16V dan 108 Tank M1A2 Abrams dari Amerika, Pembelian ini tidak ditanggapi serius oleh Republik Rakyat China karena masih belum sebanding dengan kekuatan Militer mereka.

Guna menghadapi ancaman Republik Rakyat China inilah, Taiwan menerapkan MDD dengan strategi penghancuran musuh sedini mungkin,  dan menyiapkan tenggat waktu bagi sekutu militer (Jepang Amerika) datang memberi bantuan. Dengan kata Lain, Taiwan memainkan strategi Perang Asimetris pula.

MDD menerapkan Prinsip “melawan musuh di pantai seberang, menyerangnya di laut, menghancurkannya di daerah pesisir, dan memusnahkannya di tempat berpijak”. Sesuai namanya, MDD memiliki 3 lapis kekuatan. Lapis Pertama adalah Pendeteksian dini ancaman lawan dan melenyapkan lawan ketika masih di Selat Taiwan.

Lapis Pertama perlu di dukung dengan Radar yang tangguh dan Persenjataan jarak jauh. Untuk itu Taiwan menyiakan dana 24,34 juta Dollar memperbaharui Sistem Radar Jarak Jauh nya serta Menyiapkan Rudal Jarak Jauh yang ada di Kapal Perang, Pantai maupun Jet Tempur. Taiwan juga menyiapkan skuadron kapal penebar ranjau laut otomatis.

Coastal Air Defence
Coastal Air Defence – Globaldefence

Lapis Kedua adalah Pertahanan pantai yang didukung oleh Persenjataan seperti  coastal defense cruise missiles (CDCM), man-portable air-defense systems (MANPADS), high mobility artillery rocket systems (HIMARS), mobile coastal Defense System (MCDS), Multiple Launch Rocket System dan sebagai nya.

Untuk Lapis Pertama dan Kedua, Taiwan kemungkinan berpatron pada Negara Kecil yang dikelilingi Musuh seperti Israel dan Singapura, dimana sistem pertahanannya termasuk Kokoh dan punya kemampuan Pre-Emptive Strike (Nyerang Duluan).

Lapis Ketiga adalah Pengerahan seluruh sumber daya militer Taiwan yang ada untuk melawan musuh habis habis an sebagai benteng pertahanan terakhir nya. Kementerian Pertahanan Taiwan menyebutnya All Out Defense (AOD).

AOD ini mirip seperti doktrin militer Indonesia yakni Pertahanan Rakyat Semesta dan taktik perang gerilya yang dibukukan oleh Jendral besar AH Nasution berjudul Pokok Pokok Gerilya (1953). Bagaimanapun, peran dukungan rakyat Taiwan sangat menentukan arah pertempuran melawan China nantinya. Jika Taiwan mampu memberikan perlawanan dan terus bertahan, Dukungan Sekutu dan Simpati Dunia Internasional diharapkan  dapat memukul Mundur China.

Last, Perang adalah jalan pilihan yang mahal, menang atau kalah tetap mengandung kerugian keduanya. Namun jika Perang dalah Jalan Terbaik untuk menjaga keselamatan Bangsa Negara, Maka itu adalah Keniscayaan yang tak bisa dielakan. Untuk itulah, diperlukan persiapan yang sangat matang dan terencana.

 

Comments

comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *